Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Tokoh penggerak Poedjangga Baroe menulis buku berjudul Puisi Lama. Tokoh itu bernama Sutan Takdir Alisjahbana. Aku pernah menjadi pengagum Sutan Takdir Alisjabhana saat membaca esai-esai dan ulasan mengenai bahasa dan sastra di Indonesia. Aku mengoleksi puluhan buku garapan Sutan Takdir Alisjahbana. Permulaan mengenal tokoh sangar saat aku kelas dua SMA. Di perpustakaan ada buku berisi tulisan-tulisan persembahan bagi Sutan Takdir Alisjahbana. Di rak sastra, aku dapati Lajar Terkembang. Di majalah Horison, aku sering membaca pengutipan dari tulisan-tulisan Sutan Takdir Alisjahbana. Aku tergoda meniru Sutan Takdir Alisjahbana, pemicu polemik bersejarah, masa 1930-an.

Ingat Sutan Takdir Alisjahbana, ingat peristiwa di IKIP PGRI Kediri. Aku mengenakan kaus dengan gambar dari sampul novel Lajar Terkembang. Kaus itu aku pamerkan ke 200-an orang. Aku berdiri di atas meja sambil berkhotbah tentang sejarah sastra dan bahasa Indonesia. Aku berkata: “Siapa pernah membaca novel Lajar Terkembang gubahan Sutan Takdir Alisjahbana?” Aku melihat mereka dengan ragu. Ada seorang perempuan mengangkat tangan. Aduh! Aku cuma melihat satu orang pernah membaca Lajar Terkembang. Aku tak perlu menangis. Novel itu pasti kalah memikat dengan novel-novel mutakhir, berkisah asmara picisan.

Lama 1

Dulu, Sutan Takdir Alisjahbana menggarap buku berjudul Puisi Lama (Pustaka Rakjat, 1961) untuk bacaan murid-murid di sekolah menengah. Buku ini terbit pada masa 1940-an. Aku memiliki edisi cetakan kelima. Buku Puisi Lama memberi kontribusi penting bagi pendidikan sastra di sekolah-sekolah. Di Indonesia, para sastrawan sedang menggerakkan aliran baru. Wah, aku memakai lagi istilah “baru”, musuh “lama”. Sutan Takdir Alisjahbana masih memerlukan membuat tautan ke puisi lama agar tak sirna atau hilang.

Apakah puisi lama? Sutan Takdir Alisjahbana memberi jawab: “Puisi lama ialah sebagian dari pada kebudajaan lama jang dipantjarkan oleh masjarakat lama.” Urusan lama dan baru bisa menimbulkan pusing. Aku harus sediakan obat dan segelas teh. Sutan Takdir Alisjahbana adalah juru penerang mengenai lama dan baru selama puluhan tahun. Aku mengikuti penjelasan meski harus waspada. Weh! Aku bertarung dengan alinea rumit: “Achirnja satu pasal pula jang menjebabkan, maka ikatan puisi lama itu djarang atau amat lambat berubah-ubah, ialah oleh karena dalam masjarakat lama itu sekalian tjabang kebudajaan bersatu, bertali-tali, berseluk-beluk, tidak berpisah-pisah seperti dalam masjarakat moderen.” Aku merasa lelah untuk menikmati bahasa suguhan Sutan Takdir Alisjahbana. Aku tidak berniat meremehkan pengetahuan bahasa sang pengarang ampuh. Aku saja mengalami bimbang saat berbahasa, dari tahun ke tahun.

Lama 2

Aku membaca halaman demi halaman seperti membaca rumah bahasa lawas. Di halaman-halaman awal, Sutan Takdir Alisjahbana menghadirkan puluhan pantun. Aku jarang membuat pantun. Dulu, aku pernah mengadakan lomba pantun di UMS. Aku dan teman-teman di Jamaah Fundamentalis Sastra mengundang orang-orang untuk berpantun. Malam berpantun. Aku menonton dengan kagum dan tawa berkepanjangan. Orang-orang beradu pantun meski tersendat dan kelelahan. Di buku Puisi Lama, aku mengingat pantun dari masa silam terasa indah ketimbang pantun-pantun dari para petarung di UMS.

Singkarak kotanja tinggi,

asam pauh daru seberang.

Awan berarak ditangisi,

badan djauh dirantau orang.

Orang Padang mandi digurun,

mandi berlimau bunga lada.

Hari petang matahari turun,

dagang berurai air mata.

Pantun tentang orang merantau. Aku tak pernah merantau, tak memiliki peristiwa berair mata. Aku pun tak pernah meninggalkan desa untuk menjadi pedagang sukses. Aku pernah membaca uraian tentang merantau dari Mochtar Naim dan A.A. Navis. Aku bisa mengimajinasikan sedih si perantau. Pantun itu bisa membuatku turut merasakan meski tak mengalami.

Lama 3

Aku beralih ke gurindam. Di halaman 78, Sutan Takdir Alisjhabana mengutip gurindam terkenal dari Raja Ali Haji. Eh, aku jadi ingat pernah menjadi pemenang harapan dalam Raja Ali Haji Award. Hadiah dan piagam tak pernah dikirim ke alamat rumahku. Aku ikhlas, tak menagih. Pengumuman resmi berbeda dengan ulah panitia. Puisiku berjudul Ibu Memasak Gurindam. Puisiku memang jarang tampil di koran atau majalah. Aku tentu tak harus malu. Aku tetap pujangga. Wah! Gurindammu pasti kalah bersaing dengan Gurindam Dua Belas gubahan Raja Ali Haji.

Barang siapa mengenal jang tersebut,

tahulah ia makna takut.

Barang siapa meninggalkan sembahjang,

seperti rumah tiada bertiang.

Gurindam untuk berdakwah. Aku jadi rindu dakwah sastrawi ketimbang dakwah para ustadz di masa sekarang. Mereka fasih bicara tapi menjemukan dan jauh dari pikat makna. Di televisi, para ustaz ditampilkan sebagai “artis” ketimbang pendakwah. Mereka berdandan rapi, bergaji, dipuja, dan terkenal. Aku tak membenci mereka cuma merasa rindu kehadiran para pendakawah melek sastra.

Barangkali mereka perlu membaca buku Puisi Lama, berharap menemukan ingatan-ingatan bahasa dan sastra dari masa silam. Mereka tak harus mengucapkan lagi. Penulisan pantun dan gurindam baru bisa menjadi siasat berdakwah tanpa berlagak paling mengerti agama. Berdakwah bernuansa sastra memberi ajakan ke umat untuk mentas dari kejenuhan. Aku pun ingin berdakwah meski tak ada panitia mengundangku ke masjid-masjid atau studio televisi. Oh, aku mulai tergoda menjadi ustaz tenar. Aku mesti memilih jalan dakwah berbeda agar tak menjemukan bagi umat. Begitu.

Iklan