Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Siapa memiliki koleksi lengkap buku-buku garapan W.J.S. Poerwadarminta? Aku harus mencari informasi mengenai kemauan orang mencari, mempelajari, dan mengoleksi buku-buku Poerwadarminta?  Apakah perpustakaan-perpustakaan di Jakarta telah berhasil mengumpulkan semua buku dan membuat sejenis penelitian tentang kontribusi Poerwadarminta bagi peradaban di Indonesia? Eh, aku terlalu berani menggunakan ungkapan peradaban Indonesia. Aku memastikan saja bahwa buku-buku garapan Poerwadarminta penting bagi literasi di Indonesia, mulai urusan kamus sampai buku pelajaran.

Aku menemukan buku kecil berjudul Zakwoorden-Boekje Nederlandsche-Maleisch susunan W.J.S.P. Darminto, terbitan Tan Khoen Swie, Kediri, 1930. Penulis membuat singkatan untuk Poerwa dengan huruf P. Aku tentu tak berlaku sopan jika memanggil Pak W.J.S.P. Panggilan Darminto akrab bagi lidah orang Jawa. Di desaku, nama itu bisa mendapat panggilan singkat: Minto. Singkatan pun bertambah menjadi W.J.S.P.D. Minto. Walah! Aku malah repot dengan nama.

Minto 1

Di halaman pendahuluan Pak Minto menulis: “Lamalah soedah penoelis ingin sekali akan memboeat Woordenboekje Nederlandsche-Maleisch, akan tetapi maksoed terseboet senantiasa tiada djadi, karena kekoerangan tenaga dan fikiran. Akan tetapi oleh ramat Toehan, lama kelamaan terdjadilah kitab terseboet.” Aku disadarkan oleh kalimat Pak Minto. Kamus tergantung “ramat Toehan”. Pekerjaan membuat kamus berpahala. Ketekunan membuat kamus itu ibadah. Tuhan memang penentu dari kemauan dan ekspresi berliterasi. Eling literasi, eling Tuhan.

Kamus kecil, tebal 124 halaman. Pekerjaan membuat kamus pada masa 1930-an adalah persembahan mulia untuk mengartikan zaman “kemadjoean”. Sekolah-sekolah sudah ada, organisasi pergerakan mengusung nasionalisme, pers bertumbuh di pelbagai kota, pekerjaan-pekerjaan baru diminati kaum pribumi. Kamus penting untuk kehidupan di negeri jajahan. Pak Minto sadar kebermaknaan kamus. Penjelasan pendek: “Adapoen maksoed penoelis, kitab ini hanja oentoek bangsa kita dan bangsa Tionghwa jang ingin mengetahoei bahasa Belanda. Dari sebab itoe barang apa jang mendjadikan kesoekaran kami boeboehkan. Walaoepoen begitoe, kitab ini akan bergoena djoega bagi bangsa Belanda jang ingin beladjar bahasa Melajoe.” Sejak abad XIX, bahasa Belanda penting di dunia pendidikan. Bahasa penjajah tentu paling penting dalam urusan pemerintahan, militer, dan perdagangan. Kemunculan para penggerak bangsa di awal abad XX pun mesti berbekal bahasa Belanda untuk bisa mengimajinasikan dan membentuk Indonesia. Oh!

Minto 2

 Aku membuka halaman-halaman, tak terlalu serius mirip penerjemah atau peneliti. Aku baca arti brooddronken: biadab. Cantine berarti “goedang boeat senang-senang.” Faam berarti “kemashoeran”. Hoogmoed berarti “tjongkak”. Naakt berarti “bertelandjang”. Netjes berarti “bersih” atau “baik”. Nah, ungkapan netjes menjadi necis di Indonesia. Ingat necis, ingat Soekarno. Sejarah Indonesia memuat sejarah kenecisan Soekarno dalam berbusana. Aku berulang membuat esai mengenai Soekarno, mengacu ke necis.

Aku tak memiliki kemampuan berbahasa Belanda. Di pasar loak, aku sering melihat buku-buku ampuh berbahasa Belanda. Aku kadang membeli dan mengoleksi meski tak bisa membaca. Aku kadang cuma memegang  dan melihat, tak ada uang untuk membeli. Buku-buku itu turut membentuk Indonesia. Buku-buku melahirkan  “pribumi modern” dan “pribumi pintar”. Buku-buku berbahasa Belanda juga menghinakan dan menimbulkan derita bagi jutaan orang Indonesia. Kamus diperlukan untuk membaca dan mengerti. Aku memiliki kamus tak bertujuan membaca buku-buku berbahasa Belanda. Aku cuma ingin mengenang masa lalu menggunakan kamus. Pilihan mengenang tak romantis.

Minto 3

Kamus ini membuatku semakin menghormati Pak Minto. Aku berharap lekas mendapat buku biografi Pak Minto. Apakah sudah ada orang menulis biografi Pak Minto? Di Indonesia, apakah lumrah mengusulkan si pembuat kamus sebagai pahlawan? Para sastrawan sudah masuk daftar pahlawan. Pak Minto sebagai intelektual, pembuat kamus, penulis buku pelajaran… pasti memiliki kontribusi besar bagi Indonesia. Warisan kamus masih dipakai sampai sekarang. Ah, kamus sudah membuat Pak Minto berpahala. Apakah mesti berlanjut mendapat piagam dan medali pahlawan?

Pak Minto memberi gairah berbahasa Belanda sejak masa 1930-an. Penerbit Tan Khoen Swie juga berperan besar untuk literasi di Indonesia. Aku sudah mengoleksi puluhan buku terbitan Tan Khoen Swie. Di halaman depan, aku melihat foto si penerbit dan keterangan kecil: “Di perlindoengi hak pengarang, kitab ini jang sjah ada tanda tangannja si penerbit…” Lelaki ganteng, berambut gondrong. Aku menduga Tan Khoen Swie memiliki pahala berlimpah: mau menerbitkan kamus susunan Pak Minto. Tan Khoen Swie telah menerbitkan ratusan buku. Di halaman belakang, aku membaca daftar buku-buku terbitan Tan Khoen Swie. Apakah Tan Khoen Swie mesti diusulkan sebagai pahlawan?

Aku selalu takjub jika bertemu kamus. Dulu, aku menghindari kamus bahasa Inggris akibat benci dan marah. Sejak sepuluh tahun silam, aku mulai mencintai kamus  untuk mengerti pelbagai hal. Kamus mengisahkan tokoh, kata, zaman, peristiwa…. Aku mendapat Zakwoorden-Boekje Nederlandsche-Maleisch dengan harga murah tapi mengajariku tentang “ibadah bahasa”. Indonesia tak cuma sejarah organisasi, pers, rapat umum, demonstrasi…. Sejarah Indonesia juga digerakkan oleh kamus-kamus. Pak Minto berperan aktif dengan membuat kamus-kamus. Begitu.

Iklan