Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Di Peking, Tiongkok, 1956, Soekarno pernah berucap: “Jauh di mata dekat di hati.” Di hadapan penduduk Peking, Soekarno meninggalkan ungkapan sakti. Tahun demi tahun berlalu. Ungkapan itu diucapkan kembali oleh Xi Jinping, 2014. Presiden Tiongkok itu mengucap pada Joko Widodo. Ungkapan itu mengikat masa lalu dan masa sekarang. Sebelum melawat ke Tiongkok, Soekarno adalah pembaca pemikiran-pemikiran ampuh dari Tiongkok. Sejak muda, Soekarno membaca buku Sun Yat Sen. Kehadiran di Tiongkok membuat Soekarno mendapat pujian dan tepuk tangan. Di negeri sastra dan filsafat, Soekarno memberi pidato-pidato hampir tiap hari untuk menjelaskan diri, Indonesia, dan dunia.

Empat tahun sebelum perlawatan Soekarno ke Tiongkok, terbit buku berjudul Ke Tiongkok Baru susunan Kwee Kek Beng, terbitan Kuo, Jakarta, 1952. Buku dengan kemasan bersahaja. Tebal 180 halaman. Buku ini terbit setelah melewati tahun demi tahun. Perlawanan Kwee Kek Beng berlangsung pada tahun 1933. Perlawatan juga dilakukan lagi pada tahun 1951. Buku berisi laporan dan foto perjalanan menjadi bacaan orang-orang di Indonesia: mengenal dan mengimajinasikan Tiongkok.

Tiongkok 2

Kwee Kek Beng menjelaskan: “Kalau antara pembatja ada jang kurang pertjaja apa jang dituturkan dalam ini tjatatan perdjalanan ringkas, itu tiada bikin kita heran sebab banjak jang bersifat hampir dongengan.” Wah, penulis sudah memperkenankan pembaca ragu. Kwee Kek Ben sudah berusaha untuk “sebisanja menurut kenjataan apa jang kita lihat.” Pembaca tak hadir di Tiongkok. Mata penulis menjadi wakil seribu pasang mata. Sajian kata dan foto menjadi penjelas dari pengalaman.

Perjalanan menggunakan kapal, berhari-hari di atas lautan. Kwee Kek Beng dan rombongan sampai ke Canton. Catatan awal: “Sesampai di Canton kita kutjek-kutjek mata sebab djalan-djalan besar djauh sekali lebih bersih dari dulu tahun 1933. Kotoran jang tertampak di trotoar atau pinggir djalan seperti umpama di Glodok atau Pantjoran  di Djakarta tiada tertampak di Canton.” Ingatan tatapan mata saat masih di Djakarta masih dibawa untuk melihat Canton. Kwee Kek Ben tak sedang mendongeng tapi hampir berlebihan. Kejadian di Canton: “Di salah satu djalan itu  jang terbikin dari batu, kita hampir terpeleset sebab sangat litjinnja, bukan lantaran lumpurnja, tapi lantaran bersihnja!” Apakah ada tukang pel setiap hari? Aku menduga jalan itu menjadi licin akibat sering dilewati kaki-kaki bersepatu. Penduduk di Canton tak perlu membeli cairan berbau wangi untuk mengepel jalan. Aku pastikan diperlukan ratusan botol untuk mengepel jalan. Eh, siapa mau mengepel jalan?

Tiongkok 3

Kunjungan berlanjut ke Shanghai. Aku sering ingat Shanghai mengacu ke film dan novel. Aku adalah penonton film-film Tiongkok. Aku pun mengoleksi puluhan novel mengisahkan Shanghai. Ah, kapan aku dolan ke Shanghai? Di sana, aku bakal menggubah puisi-puisi dan esai-esai, tak usah sibuk memotret. Aku ke sana, ke sana, ke sana. Amin. Nama Shanghai sudah puitis dan imajinatif. Aku pasti bakal membuat tulisan ampuh ketimbang kalimat-kalimat Kwee Kek Beng. Di Shanghai, Kwee Kek Beng menulis: “Apa jang djuga perlu ditjatat jalah tersapu bersihnja pengaruh asing dari ini kota Tiongho paling besar. Dulu dimana-mana orang lihat soldadu asing bersendjata, Djepang, Inggris, India, Perantjis, Amerika, dan setahu apa lagi dan di sungai-sungai kapal perang asing berdjedjer-djedjer setjara menantang.”

Kota demi kota dikunjungi. Kwee Kek Beng mencatata tentang pers, perempuan, perdagangan, pelesiran, pendidikan, seni…. Perlawatan dari kota ke kota dicatat dengan kata-kata. Kota dan kata! Aku merasa belum bisa meniru ketekunan Kwee Kek Beng. Aku jarang pelesiran. Aku bergerak ke kota-kota jika ada panggilan untuk khotbah atau obrolan. Aku jarang membuat catatan-catatan kunjungan meski tiga alinea. Ah, aku pemalas. Aku tak terbiasa memanjakan diri melihat kota sebagai turis. Di pelbagai kota, aku cuma mendekam di kampus, hotel, atau rumah ketimbang jalan-jalan. Aku melihat kota sepintas, tak sempat merasai dengan khusuk.

Kwee Kek Beng sampai ke Peking. Aku memiliki setumpuk imajinasi Peking melalui film dan buku. Imajinasi bertambah dengan catatan dari Kwee Kek Beng: “Kota Peking ada salah satu kota paling tua di kolong langit; ada jang kata, ini kota sudah lebih dari tiga ribu tahun tuanja… Tidak dilebih-lebihkan, kalau dikata Peking ada kota jang sangat pandjang dan sangat beraneka warna hikajatnja sebagai kota jang telah tukar nama berkali-kali, musnah dan dibikin baru berulang-ulang.” Ingat imajinasi kota, ingat Calvino. Aku berulang membaca Kota-Kota Imajinasi. Aku pun mengutip isi buku untuk garapan esai-esai.

Buku Ke Tiongkok Baru adalah bacaan orang-orang di masa 1950-an. Tahun demi tahun berlalu. Pembaca buku itu semakin berkurang. Kini, aku tak tahu jumlah pengoleksi dan pembaca buku garapan Kwee Kek Beng. Di toko buku, berlimpah buku-buku pelesiran ke pelbagai negeri. Barangkali buku Ke Tiongkok Baru tak lagi diingat atau mendapat pembaca. Aku sulit tak bersedih saat orang-orang melupakan buku-buku lawas, terlalu memuja buku-buku terbitan baru. Dulu, orang-orang sudah rajin membuat catatan atau laporan perjalanan sebelum penerbit-penerbit di Indonesia bersaing mengeluarkan buku-buku bercap “travelling”. Aduh, istilah tak puisi! Eh, aku merasa judul-judul buku dari masa lalu tak genit harus berbahasa Inggris. Aku telah berhasil membeli buku elok dan sangar berjudul Serat Tjarios Kekesahan Saking Tanah Djawi Dateng Negari Welandi (1916). Buku garapan Raden Mas Ario Soerjosoeparta. Judul apik dan kalem. Buku beraksara dan berbahasa Jawa. Sejak puluhan tahun silam, buku-buku perlawatan atau perjalanan telah memberi bacaan menggoda. Begitu.

Iklan