Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

25 November 2014, aku dan Set dolan ke Pare, Kediri. Hari itu ada kemauan sinau bareng bertema guru. Sebelum sampai ke Terminal Tirtonadi, mampir ke kios koran. Eh, ada esaiku berjudul Guru tampil di Koran Tempo. Esai mungil dan hampir klise. Walah! Esai itu aku garap Minggu, 23 November 2014. Pamrih menulis esai untuk mengajak diri masuk ke urusan-urusan pendidikan. Aku mesti bisa menerbitkan lagi kumpulan esai pendidikan, setelah buku berjudul Pendidikan: Tokoh, Makna, Peristiwa (2014).

Santapan di bis: Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Solopos. Semua koran sajikan berita dan artikel mengenai guru. Di Media Indonesia, ada halaman-halaman khusus mengulas guru. Aku tentu senang, koleksi kliping bakal bertambah. Hari itu aku merasa pantas mesem telah turut mempersembahkan esai berjudul Guru. Usai membaca koran-koran, aku memilih membaca novel berjudul Penjahit dari Khair Khana, berkisah perempuan-perempuan di Afghanistan. Mereka menjahit demi hidup dan mengelak dari keputusasaan akibat perang. Novel itu selesai dibaca saat bis sampai di Nganjuk. Lega.

Di rumah-gudang Uun, Pare, Kediri. Hujan turun, siang mirip sore. Aku berbaring sambil mendengar hujan dan suara dari rumpun bambu. Puisi liris. Tubuh lelah tapi ingin lekas berbaur teman-teman untuk sinau tentang guru. Di ruang sempit, aku dan puluhan orang mulai melakukan obrolan. Guru sebagai kata, sosok, pekerjaan, dan gambar. Obrolan terus berlangsung sampai sore, terus berlangsung sampai pukul 12 malam. Di sela obrolan, aku memamerkan buku lawas. Aku meminta Alan untuk membaca halaman awal. Alan membaca keras: Pemimpin Goeroe, jaitoe keterangan hal mengadjar dan mendidik (Onderwijs en Opvoedkunde) dikarang oleh J. Kats, tertjitak oleh G. Kolff & Co., Betawi, 1915. Buku ini berusia mau seabad. Wuih! Aku menggunakan buku ini sebagai acuan garapan esai di Koran Tempo.

Guru 1

Kats di halaman pendahuluan menulis: “Soedahkah goeroe-goeroe boemi poetera memperhatikan hal mendidik moerid-moeridnja? Anak-anak biasa diseboet pandai, kalau telah dapat membatja dengan lantjar dan toelisannja poen baik…. Goeroe jang oetama itoe tidak memperhatikan hal kepandaian sahadja, akan tetapi ia senantiasa mengharap, soepaja moeridnja menjadi orang jang tiada dapat ditjela tentang badan dan djiwanja.” Kats menulis kalimat-kalimat itu setelah menjelaskan sejarah pendidikan goeroe di Eropa. Penerbitan buku Pemimpin Goeroe sengaja diarahkan ke guru-guru bumiputra agar memiliki acuan, pedoman, dan bimbingan. Guru adalah profesi baru di Hindia Belanda. Orang-orang mau menjadi guru perlu membaca buku garapan Kats, membentuk diri sebagai “goeroe oetama”.

Tebal buku 112 halaman, berisi uraian-uraian penting, dibagi dalam tiga bab: (1) Dari hal pengadjaran dan djalan pengadjaran; (2) Dari hal pendjagaan diri; (3) Dari hal pendidikan moerid. Rincian 3 bab selalu menggunakan “dari hal”. Ah, apakah “dari hal” itu penting dalam penjelasan? Aku membaca buku dengan “nggumun”. Orang-orang di masa lalu sudah memiliki kemauan mempelajari buku demi menjadi guru. Bacaan tentu melengkapi materi-materi di sekolah pendidikan guru. Apakah buku Pemimpin Goeroe termasuk buku terpenting di masa awal abad XX? Apakah buku ini menjadi koleksi para pengamat pendidikan dan menteri untuk mengerti kesejarahan guru dan literasi guru dari masa lalu? Sejak dilantik menjadi menteri, 27 Oktober 2014, Anies Baswedan sering memberi penjelasan di pelbagai koran dan majalah mengeni guru sebagai penentu pendidikan di Indonesia. Seruan membesar saat peringatan Hari Guru. Sang menteri membuat kalimat-kalimat memikat untuk memuliakan guru di Indonesia.

Guru 2

Kats memberi petunjuk bagi guru dalam pengajaran: (1) Hendaklah goeroe menerangkan maksoed pengadjarannja dengan ringkas dan terang; (2) Hendaklah goeroe menerangkan maksoed pengadjarannja dengan menjeboetkan perkara jang tentoe; (3) Djikalau goroe menerangkan maksoed pengadjarannja, haroeslah memakai perkataan jang tjoekoep; (4) Hendaklah goeroe memakai perkataan jang menjenangkan atau mengherankan hati anak-anak, soepaja mereka itoe ingin mengetahoei… Aku tergoda untuk menerbitkan lagi buku Pemimpin Goeroe, berharap menjadi buku bandingan saat guru-guru dikhotbahi cara mengajar menggunakan buku-buku berbahasa Inggris. Kini, guru-guru biasa mendengar istilah-istilah asing berkaitan mengajar-mendidik. Buku-buku dan seminar-seminar telah mempengaruhi cara pengajaran baru.

Guru 4

Aku mendapat keterangan-keterangan gamblang tentang guru di halaman 83-84. Kats menganjurkan: “Hendaklah goeroe memeliharakan badannja soepaja djangan berpenjakit atau koerang sehat.” Ketentuan-ketentuan: (1) Pakaian dan badan goeroe djanganlah koerang bersih; (2) Apabila goeroe berkata-kata djanganlah terlaloe tjepat; (3) Perloe amat goeroe mengetahoei hal sopan santun, soepaja dapatlah ia memberi teladan jang baik pada moerid-moeridnja serta kelakoeannja djangan ada tjelanja; (4) Hendaklah goeroe radjin bekerdja…. Buku Kats telah bersejarah, melewati tahun demi tahun. Apakah buku ini masih penting untuk menjadi referensi mengurusi guru di Indonesia? Aku menduga sang menteri dan pengamat pendidikan memilih menggunakan buku-buku berbahasa Inggris untuk memberi penjelasan-penjelasan mengenai guru dalam seminar, buku, pidato, atau rapat. Aku berharap bisa “memuliakan” buku lawas agar tak lupa ada petunjuk-petunjuk menjadi guru saat Indonesia masih sebagai negeri jajahan. Begitu.

Iklan