Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

11 November 2014, aku dolan ke balai Soedjatmoko, menghadiri diskusi buku berjudul Mendidik Pemimpin dan Negarawan (Lamalera, 2014) susunan A. Setyo Wibowo dan Haryanto Cahyadi. Aku datang dengan kondisi lelah. Duduk di lantai, pojok samping kiri. Makan arem-arem dan tahu. Di depan, Guntur sedang bengok-bengok, melagukan Indonesia. Aku belum siap dengan suara keras. Aduh! Guntur berlanjut menjadi moderator. Di kursi terhormat, ada Dewi Candraningrum dan Setyo Wibowo. Duduk sambil menahan dingin, aku mendengar omongan-omongan intelektual. Aku memejamkan mata untuk mengimajinasikan tatanan kata. Usai membuka mata, aku membaca makalah. Aku menjadi lelaki lugu di hadapan makalah dan pidato dua intelektual. Bahasa-bahasa asing bermunculan. Tokoh-tokoh besar dunia diucapkan sambil mengutip pemikiran. Aku menantikan dua orang itu berkisah Indonesia. Aku bersabar menanti detik-detik penjelasan mengenai Platon di Indonesia, sejak awal abad XX sampai sekarang. Ah, aku semakin lelah dan dingin.

Hari segera berganti. Aku cuma ingat dikusi buku itu memberiku sangsi dan lelah. Aku terlalu berharap Platon dijelaskan melalui Radjiman Wediodiningrat, Boedi Oetomo, Tan Malaka, Perguruan Taman Siswa, Hatta, Sjahrir, Drijarkara…. Aku ingin rasa Indonesia ketimbang terbang ke negeri-negeri asing. Aku merasa ada konsekuensi meninggalkan halaman-halaman sejarah Indonesia saat mengurusi filsafat, politik, dan pendidikan. Eh, aku sangsi dengan diriku sendiri: tak sanggup membaca buku-buku baru dan ampuh. Aku pun tak bisa memebaca buku berbahasa Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, Latin… Pilihanku membaca buku-buku lawas berbahasa Indonesia dan Jawa. Aku tak ingin terlalu ingat kejadian 11 November 2014.

Mendidik 1

Aku mendingan mengenang buku berjudul Ilmu Mendidik, terbitan Direktorat Djenderal Pendidikan Dasar, Departemen Pendidikan dan Kebudajaan Republik Indonesia, 1968. Di halaman sampul dan halaman awal, aku tak menemukan nama pengarang. Tebal buku 116 halaman. Di sampul, ada cap SPG Negeri 2 Surakarta. Buku sudah dalam kondisi jelek tapi pernah dibaca oleh murid-murid pada masa 1960-an. Berapa orang pernah membaca buku ini, sejak 1968 sampai sekarang?

Buku bergelimang nasihat berdalih mendidik. Aku mengutip nasihat-nasihat di halaman 7: “Dapatkah seseorang jang tak mempedulikan agama mendidik anak mendjadi manusia jang patuh akan suruhan Allah, jang tawakal, radjin beribadat dan mengabdi pada Tuhan? Mungkinkah seseorang antinegara mendidik anak-anak mendjadi warga negara jang berdjiwa nasional?” Aku tak mau menjawab. Kalimat-kalimat itu penting dalam capaian tujuan pendidikan di Indonesia. Ada inti penjelasan: “Nilai-nilai hidup seperti rasa keagamaan, kebangsaan, kesusilaan, keindahan dsb baru dapat disampaikan, apabila telah terwudjud lebih dahulu dalam diri kita.” Aku mengimajinasikan inti penjelasan dibaca oleh murid sebagai calon guru. Di SPG, para murid tentu berkeinginan menjadi guru. Apakah mereka mengerti dan mengamalkan? Ah, aku tak mungkin menjawab. Di keluargaku, ada dua lulusan SPG. Kini, mereka adalah guru di SD dan SMP.

Mendidik 2

Pendidikan berbasis Pancasila memiliki tujuan-tujuan. Sejak masa Orde Lama, Pancasila selalu menjiwai pendidikan secara gamblang dan simbolik. Aku mulai bingung jika memberi julukan bahwa corak pendidikan di Indonesia adalah pendidikan Pancasila. Aku anggap itu berlebihan. Dulu, Sekolah Rakjat-Tan Malaka dan Perguruan Taman Siswa tentu belum mencantumkan Pancasila. Sejak 1 Juni 1945, segala hal dijuluki Pancasila: demokrasi Pancasila, pendidikan Pancasila, ekonomi Pancasila… Aku mempelajari Pancasila dan menulis esai-esai tentang Pancasila tanpa harus memaksakan diri memberi cap segala hal dengan Pancasila. Konon, pendidikan harus mengajak murid mengerti kebangsaan. Aku mengutip: “Sila kebangsaan bermaksud mendidik anak-anak kita agar mereka memiliki rasa kebangsaan, jakni rasa tjinta kepada bangsa dan tanah air. Mereka harus dididik mendjadi warga negara dan warga bangsa jang sadar, jang bukan sadja turut memelihara nilai kebangsaan, mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara, tetapi turut serta dengan aktif memadjukan kebudajaan dan kesedjahteraan negara.” Wah, kandungan makna dalam sila kebangsaan jika diamalkan di dunia pendidikan bakal membuat orang-orang Indonesia mulia dan terhormat.

Bagiku, pendidikan adalah tema penting dan penting. Aku merasa harus mempelajari buku-buku pendidikan, membuat obrolan bertema pendidikan, dan menulis esai-esai sebagai keinsafan untuk mengerti pendidikan. Kini, Indonesia memiliki menteri baru bernama Anies Baswedan: mengurusi pendidikan dasar dan menengah. Anies Baswedan adalah pembuat Gerakan Indonesia Mengajar (2010). Setelah dilantik sebagai menteri, 27 Oktober 2014, aku merasa belum mengerti dengan siasat Anies Baswedan memajukan pendidikan di Indonesia. Anies Baswedan mungkin masih bingung menerima warisan-warisan kebijakan dari Nuh.

Mendidik 3

Di koran dan pelbagai diskusi, Anies Baswedan sering menjelaskan maksud mengajak para sarjana pintar untuk menjadi pengajar di daerah terpencil. Para sarjana itu adalah pemimpin masa depan. Wah! Usia mereka masih muda, berhak menentukan nasib Indonesia. Aku pun ingat pemuda, sebutan khas bagi kaum elite terpelajar, sejak awal abad XX. Di buku Ilmu Mendidik, aku temukan penjelasan mengenai pemuda dan pendidikan: “Pemuda mentjari tjita-tjita sebagai pedoman hidup. Berilah kepada pemuda ini: tjita-tjita kebangsaan. Kamupun nanti akan terdjun ke dalam masjarakat dan akan memegang djabatan dalam masjarakat itu. Kamun akan bekerdja untuk mentjari nafkah bagi dirimu atau keluargamu, akan tetapi djangan lupa bahwa kamu harus mempergunakan djabatanmu sebagai membangun sumbangan untuk membina negara.” Aku selalu gemetar saat mendengar atau membaca istilah “djabatan” atau “pedjabat”. Di Indonesia, orang-orang berebutan menjadi pejabat. Ah, aku tak usah menjadi pejabat mendingan berjabat tangan dengan penulis-penulis pujaanku. Begitu.

Mendidik 4

Iklan