Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Di desaku, para tetangga mulai membuka usaha “umbah-umbah” alias mencuci dengan doa mendapat rezeki melimpah. Para penghuni kos tak lagi mencuci sendiri. Mereka memilih membawa ke mesin cuci dikelola para tetangga. Aku sedih jika mencuci baju dan celana sudah sirna dari dunia. Sedih tak berujung. Ah, lagu picisan! Aku mulai resah melihat para tetangga merasa mendapat peluang usaha. Mereka pun memasang papan nama, bertuliskan bahasa Inggris. Aduh! Aku terbiasa menamai peristiwa itu umbah-umbah. Eh, para tetanggaku mulai berbahasa Inggris. Kranjingan! Di depan rumah, jejeran jemuran berbau wangi. Munek! Di dalam, adegan orang menggerakkan setrika, hari demi hari. Apakah ini revolusi berujung kemalasan manusia?

Aku pernah melintas lagi di belakang kampus UMS. Walah! Aku melihat jejeran usaha memanjakan mahasiswa. Ribuan mahasiswa di UMS tentu rajin kuliah, gemar membaca, bergairah menulis. Mereka tak sempat pacaran, tidur lelap, dan mencuci pakaian. Mereka juga tak memiliki waktu dan tenaga untuk umbah-umbah. Berkuliah adalah sibuk banget. Oh! Hidup di kampus memerlukan pengorbanan-pengorbanan agar menjadi mahasiswa sejati: mendapat ijazah dan berfoto dengan dekorasi rak buku gadungan. Sibuk dan sibuk. Urusan mencuci mendingan diserahkan ke pelaku usaha bermodal mesin cuci. Kini, mencuci adalah menekan tombol di mesin.

Aku tak mau marah. Aku tentu tak ingin merana. Aku berjanji ingin tetap umbah-umbah. Peristiwa bersama ember-ember. Dulu, aku menggunakan sabun cuci. Sekian tahun berubah menggunakan bubuk. Eh, dunia berubah. Toko-toko mulai menjual cairan. Ingatanku untuk masa silam harus diselamatkan. Oh, sabun cuci…

Sabun 1

Sekian hari lalu, aku belanja buku-buku cerita anak. Puluhan buku dengan harga murah. Aku sengaja membaca dan mengoleksi ratusan cerita anak. Aku mulai menulis esai-esai kecil. Aku mau menerbitakan buku mengenai cerita anak, dari masa ke masa. Eh, aku juga pernah menulis dua novel anak. Berbelanja buku cerita malah menemukan buku tipis berjudul Dengarlah Tjeritaku… Buku cerita-mewarnai ini diterbitkan oleh perusahaan sabun cuci bermerek Sunlight. Aku tak mengetahui tahun terbit. Dugaanku masa 1950-an atau 1960-an melihat dari penggunaan bahasa.

Di halaman 1, ada 3 bait tulisan berjudul Pesanku, ditulis oleh Pak Unindo. Pesan mengandung perintah dan doa. Bait kedua: Tjoba ambil pensil berwarna,/ Warnai gambar berikut ini,/ Batja perlahan kata-katanja,/ Kepada ibu tjeritakan lagi. Bait ketiga: “Lekaslah pandai”, bapak berdoa,/ Djadi seniman, pelukis ternama. Pembukaan cukup menggoda bagi pembaca untuk membuka halaman demi halaman, menikmati cerita dan mewarnai. Aku mulai menata imajinasi masa lalu. Perusahaan sabun cuci berkepentingan menerbitkan buku cerita-mewarnai bermaksud iklan. Siasat canggih! Buku menjadi iklan berdalih “mendidik” atau memberi bacaan ke publik. Lihat, di samping Pesanku ada gambar perempuan sedang mencuci. Ada tangan memegang pensil untuk mewarnai. Di bawah, kotak sabun cuci bermerek Sunlight, bergambar tangan bersalaman.

Sabun 2

Cerita tentang ibu mencuci tentu akrab dengan keseharian bocah. Aku menduga si penulis cerita bukan sastrawan kondang. Ha! Apakah pantas sastrawan menulis cerita untuk gaji besar dari perusahaan. Cerita untuk iklan! Ah, aku tak boleh curiga atau berlagak menjaga “kesucian” laku hidup para sastrawan. Penulisan cerita dengan ganjaran duit melimpah tak dilarang oleh UUD 1945. Cerita lugu: Inilah Aminah, Ibu utama/ setiap pagi mentjutji dikali,/ Radjin mentjutji penuh usaha/ untuk kluarga anak-suami. Harapan Aminah adalah mencuci agar “bersih” dan “rapi selalu”.

Harapan itu harapan. Aminah kecewa. Kasihan… Kecewa Aminah berbeda dengan lagu dangdut: “Kecewa karena cinta…” Aminah kecewa melihat hasil cucian tak bersih. Aminah berpikir: “Apa sebabnja maka begitu?” Ah, aku suka penggunaan kata “begitu”. Kata kudus dan prengus. Lho! Pada suatu hari, Aminah dan Marjam mencuci bersama. Nah, iklan mulai bisa masuk ke cerita: Aminah bertanja kepada/ temannja/ mengapa tjepat, bersih selalu,/ “O, itu mudah!” djawab satunja/ SABUN TJAP TANGAN/ MENOLONG AKU. Owalah, sabun cuci bisa menebus kecewa Aminah. Apakah Aminah ini sama dengan Aminah dalam puisi Rendra? Aku tak tahu.

Sabun 3

Adegan dramatis berlangsung di warung. Aminah tak sabaran alias bernafsu. Weh! Si penulis cerita membuat kalimat dramatis: “Pergi ke warong hati berdebar…” Ah, kalimat berlebihan. Aku tentu menerima jika adegan kekasih bertemu kekasih: berdebar dan berdebar. Sabun cuci bisa membuat orang berdebar. Aku kutipkan adegan di warung: Sampai diwarong napasnja kentjang/ mengambil uang dari genggaman,/ Terus meminta pada si Abang/ Dua batang sabun Tjap Tangan. Aminah ingin segera membuktikan khasiat sabun cuci dengan datang ke kali: mencuci lagi, mencuci lagi, mencuci lagi. Hari demi hari semakin bermakna dengan mencuci. Ideologi Aminah dalah mencuciisme. Sangar!

Sabun cuci tak cuma menghasilkan unthuk alias busa. Pikiranku terlalu lugu jika mengartikan sabun adalah unthuk. Sabun cuci memberi kebahagiaan. Ha! Aku harus memastikan dalam cerita. Ah, bacalah di halaman terakhir: Lihat, Aminah Ibu utama/ merasa bahagia didalam hati,/ Karna dapat mendjaga keluarga,/ dapat berhemat tak boros lagi. Siapa mau membuat tesis atau disertasi mengenai hubungan sabun cuci dan bahagia? Aku tentu bakal mendukung dan memberi kontribusi pemaknaan. Akhir cerita berbahagia: Sedap baunja sabun Tjap Tangan,/ membuat Aminah selalu ingat,/ akan bahagia jang didapatkan/ Sabun Tjap Tangan penuh/ chasiat. Aku menduga buku ini menjelaskan popularitas sabun Tjap Tangan di Indonesia. Ribuan orang membaca buku berjudul Dengarlah Tjeritaku. Aku berniat mengangkat Pak Unindo sebagai tukang cerita-iklan paling berpengaruh di Indonesia. Begitu.

Sabun 4

Iklan