Tag

, ,

Bandung Mawardi

Apakah pertimbangan orang atau kelompok dalam menamai majalah atau koran? Aku masih sering merenung nama-nama majalah dan koran di Indonesia, dulu sampai sekarang. Wuih, merenung! Aku sungguh merenung. Sekian nama menimbulkan imajinasi rimbun: Medan Prijaji, Dharma KandaDoenia Bergerak, Medan Moeslimin, Sin Po, Daulat Ra’jat, Poedjangga Baroe, Siasat, Konfrontasi, Indonesia, Pandji Masjarakat, Hikmah, Merdeka, Mimbar Indonesia, Zenith, Basis, Tempo, Kompas, Intisari…. Aku mestikah membuat studi nama-nama? Ah, aku merenung sembarangan saja ketimbang membuat disertasi.

Aku membeli dan mengoleksi majalah-majalah lawas. Pada suatu hari, aku menemukan majalah Mingguan Gembira. Hore! Majalah untuk memuliakan dan menebar kegembiraan. Barangkali pembaca bakal memberi mata berbinar, tawa, wajah sumringah… Diri menjadi gembira akibat membaca majalah. Kaum sedih juga berharap mendapat kutukan bergembira. Eh, apakah ada orang berani membuat majalah bernama Sedih? Wah, majalah Sedih pasti buat kaum berairmata, pemuja sentimentalitas, pecandu film dan lagu cengeng, pendamba kekasih tak keturutan… Aku bisa saja kelak menerbitkan majalah Sedih, berisi berita dan artikel mengenai kebangkrutan pengusaha, koruptor bercerai dari istri, pengarang gagal, ratapan mahasiswa pekok…. Bersedih menjadikan orang ingat surga. Lho!

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Aku harus mengurusi halaman-halaman Mingguan Gembira, Nomor 9, Agustus 1950. Kata pendahuluan dari redaksi penting untuk direnungi: “Alhamdulillah, kini sudah pasti bahwa Negara Kesatuan Indonesia akan terbentuk. Dalam hal ini ada orang-orang jang girang ada pula jang kuatir. Kegirangan itu ada jang didasarkan atas perhitungan keuangan negara, ada pula jang didasarkan atas pengentengan susunan pegawai d.l.l.” Apakah redaksi kelupaan menulis Republik, berposisi antara Kesatuan dan Indonesia? Benar, pendahuluan sudah menimbulkan girang dan gembira. Hore!

Gembira bertambah saat membaca berita di halaman 4, berjudul Pembrantasan Buta Huruf. Hore lagi! Soekarno, pegawai pemerintah, cendekiawan, sastrawan, tokoh agama…. terus berikhtiar mengentaskan jutaan penduduk Indonesia agar bisa membaca dan menulis. Alasan paling besar adalah negara merdeka janganlah dihuni oleh ratusan juta orang tunaaksara. Indonesia bakal bersedih, hancur sia-sia. Wah, aku berlebihan membuat pengandaian. Maaf. Aku mengutip taktik pemberantasan buta huruf: “Guna penjelenggaraan P.B.H. dibutuhkan tenaga-tenaga pendorong begitu pula harus selalu diadakan propaganda: pidato-pidato, surat-surat kabar, posters, pamfelten, film d.l.l.”

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Owalah, Mingguan Gembira juga memuat sedih. Oh, mengapa? Apakah para redaktur khilaf dan lupa filosofi nama? Aku tak bisa menjawab. Di halaman 5, ada kartikatur berjudul Sapi Indonesia Diperas Kering Oleh Kaum Koruptor. Brengsek! Jahanam! Asu! Lho, aku malah misuh-misuh. Eh, bergembira dong! Ndhasmu, kita dipaksa sedih dan sedih. Korupsi pasti menimbulkan kesedihan tak terkira. Sekarang, para koruptor kuliah S-2 dalam penjara. Sang menteri ngonangi dan marah. Eh, malah berencana membuat kebijakan pembukaan kuliah S-1 di tiga LP. Weh! Aku menulis berita sedih itu di Joglosemar, berjudul Berkuliah di Penjara. Esai jelek dan keparat. Hei, bergembiralah! Hore! Ya, rezeki dari esai bisa untuk belanja buku-buku. Aku pun bergembira.

Sedih. Mingguan Gembira masih memiliki halaman kesedihan. Aduh! di halaman 8, aku membaca cerita bergambar. Judul cerita membikin sedih: Berdosa. Cerita bersambung tapi aku bisa menebak akhir cerita. Tokoh bernama Warni tampak tergoda oleh Sudira. Warni sudah bersuami dan beranak. Godaan untuk meninggalkan keluarga, berserah di pangkuan Sudira. Eh, di rumah, sang suami dan anak-anak menanti kedatangan Warni. Hari demi hari berganti. Warni tak datang. Pada suatu hari, pak pos datang memberi surat dan wesel. Suria, suami Warni membaca dan bersedih: “Maha sutji Tuhan… kiranja si Warni itu…” Aku tak mau memberi tafsir lanjutan. Aku cuma berhenti sejenak memikirkan konsekuensi keputusan Warni. Oh, Warni pulanglah. Gantilah akhir cerita bergambar agar tak memberiku kesedihan dan air mata. Aku lelaki, bisa turut merasai kesedihan Suria.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Mingguan Gembira memang bikin sewot dan bingung. Lihatlah di halaman 14, ada rubrik cerpen tapi bersambung. Keparat! Cerpen itu cerita pendek. Eh, ditampilkan bersambung. Gambar di atas tampak romantis: perempuan dan lelaki memegangi buku alias bersantai di bawah pohon. Romantis harus ditunda akibat menunggu kemunculan Mingguan Gembira edisi depan. Kutukan bersambung. Ah, gembiralah!

Gembira 4

Klik untuk memperbesar.

Aku berganti menikmati foto di halaman 18. Ada foto para pemuka PNI sebelum ditangkap polisi. 4 lelaki dan 1 perempuan. Tampilan mereka necis dan berlagak modern. Soekarno tentu paling ganteng. Para lelaki mengenakan jas putih dan berpeci. Si perempuan tampil anggun dan kalem. Perempuan itu bernama Nj. Maskun alias istri Maskun. Semoga Nj. Maskun tak seperti Warni. Amin.

Gembira terbukti di halaman berjudul Tertawa Sebentar. Ada cerita-cerita lucu tapi tak lucu. Lho! Aku mengutip satu cerita.

Ali: Kerdja dimana engkau sekarang Lim?

Salim: Saja sudah dua bulan bekerdja dikantor tjetak.

Ali: Dimana kantornja?

Salim: Itu… ditengah sawah.

Ali: Kantor tjetak apa ditengah sawah?

Salim: Kantor… mentjetak genting, Bung!

Bagiku, cerita itu tak lucu. Aku berharap para pembaca pada masa 1950-an merasa gembira membaca cerita Ali dan Salim. Semoga mereka tak terlalu bersedih mendapatkan halaman-halaman “salah muat” di Mingguan Gembira. Sekali gembira tetap gembira. Begitu.

Iklan