Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Menteri baru sedang mengingat lagi pemikiran-pemikiran  Ki Hadjar Dewantara. Di koran dan majalah, menteri bernama Anies Baswedan mulai “pamer” buku dan mengucap ajakan merenungi pendidikan mengacu ke Bapak Pendidikan Nasional. Aku membaca dan mulai bergerak menulis esai-esai. Berita-berita mesti dikliping. Aku berharap bisa menata berita untuk mengerti perkembangan pendidikan di Indonesia. Aku tak tahu, jenis dan jumlah bacaan Anies Baswedan. Pamer buku mengenai Ki Hadjar Dewantara dan Taman Siswa membuatku bisa memberi pujian meski kecil.

Polemik tentang Kurikulum 2013 terus berlanjut. Aku semakin tergoda menjadikan pendidikan sebagai tema harian: membaca dan menulis bertema pendidikan. Sekian esai sudah diumumkan di koran-koran. Puluhan esai bakal aku terbitkan menjadi buku, laporan bagi peminat tema pendidikan. Setahun menerbitkan dua buku pendidikan tentu melegakan. Amin.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Aku berharap Anies Baswedan memiliki dan sudah membaca buku tipis berjudul Azas-Azas dan Dasar-Dasar Taman Siswa (1961) susunan Ki Hadjar Dewantara, terbitan Madjelis Luhur Taman Siswa, Jogjakarta. Aku megoleksi untuk cetakan kedua. Buku berisi “wasiat” agar pendidikan terus berkembang dan “mencirikan” Indoensia. Dulu, buku ini pernah dicenthelke dan diobrolkan dalam Pameran Buku Pendidikan di Bilik Literasi, 2014. Sekian teman juga memiliki sebagai bacaan penting sepanjang hidup ketimbang mengoleksi novel garapan novelis nomor 1 di Indonesia. Ha! Apakah ada daftar urutan novelis di Indonesia? Aku menjawab: ada. Simak saja iklan novel dilengkapi foto pengarang di koran nasional. Novel itu dijuluki “novel sejarah pembangun jiwa”. Di Indonesia, berdagang novel sering menabrak etika atau kepatutan. Aku saja tak mau menganggap Ki Hadjar Dewantara sebagai pemikir pendidikan nomor 1 di Indonesia. Aku tak mau memberi nomor urut untuk para penggerak pendidikan. Mereka pantas dihormati tanpa nomor.

Keterangan di kata pengantar: “Bagi segenap keluarga Taman Siswa buku ini merupakan sumber bahan memperdalam pengertian dan kesadaran untuk lebih melengkapi sendjata hidupnja dalam mengabdi pada Sang Anak, untuk nusa dan bangsa dan untuk keselamatan manusia pada umumnja.” Keterangan mengandung ikhtiar dan doa. Aku merasa ada siasat jitu Taman Siswa dalam menggerakkan pendidikan. Penerbitan buku-buku sering diadakan agar ada sebaran ide dan penjelasan ke publik. Apakah kebiasaan menerbitkan buku-buku ditiru oleh pelbagai sekolah dan universitas berkaitan pemikiran pendidikan? Mereka mungkin menerbitkan buku-buku tapi demi iklan. Lho!  Warisan Taman Siswa tak cuma sekolah. Warisan penting adalah buku-buku. Aku berharap Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah memiliki koleksi lengkap buku-buku mengenai Ki Hadjar Dewantara dan Taman Siswa. Apakah Anies Baswedan membaca buku milik sendiri atau koleksi di perpustakaan kementerian?

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Sejak 1922, Taman Siswa memberi kontribusi besar dalam pendidikan-pengajaran nasional berhadapan dengan pendidikan bercorak kolonial. Keberadaan dan perkembangan Taman Siswa mengacu ke azas dan dasar. Masa awal adalah perjuangan untuk mencirikan pendidikan demi persatuan dan kemerdekaan. Situasi zaman berubah, Taman Siswa terus berbenah dan meladeni pelbagai perubahan. Taman Siswa tak mau kaku atau kolot. Proses pemahaman dan pelaksanaan azas dan dasar mengalami perubahan, dari masa ke masa. Aku merasa ada kesadaran kritis dan adaptif dari para penggerak Taman Siswa. Mereka tak rikuh untuk melakukan perubahan. Sekarang, gagasan perubahan dalam pendidikan-pengajaran malah menimbulkan kisruh tak keruan. Wah, kita mungkin lupa sinau gejolak atau dinamisasi di Taman Siswa.

Ada keterangan mengingat masa lalu: “Dalam pada itu hendaknja djangan dilupakan, bahwa sedjak tahun 1922 usaha Taman Siswa itu sebenarnja sudah berupa usaha nasional dan pemeliharaan tjita-tjita revolusioner dalam segala soal pendidikan, dengan mengabdikan segala tekanan atau ikatan kolonial dari fihak Belanda, menudju kearah apa jang kini sudah dapat tertjapai.” Taman Siswa terus berkontribusi dengan azas dan dasar. Aku justru tergoda memahami konsep keluarga dan anutan adat-adat Taman Siswa. Azas dan dasar tentu menjiwai gerak Taman Siswa. Adat cenderung mengantarku ke pengertian-pengertian lawas. Gerakan pendidikan-pengajaran tak melulu modernisasi tapi memiliki anutan ke adat.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Eh, adat adalah sebutan bentukan untuk menjelaskan ketentuan-ketentuan di Taman Siswa. Di buku, penjelasan adat berkaitan “sebutan ki, nji, dan ni”, “melenjapkan imbangan madjikan-buruh”, “urusan kekeluargaan”, “sebutan ibu dan bapak”, “pengertian demokrasi dan leideschap”, “sebutan organisatoris dan organis”. Aku perlu mengutip untuk sebutan ibu dan bapak: “… murid-murid menjebut bapak atau ibu terhadap guru-gurunja laki-laki atau perempuan, ini tidak sadja kita anggap perlu sebagai tjara jang formil, namun pula sebagai prisip.” Adat itu tak tertulis tapi diterapkan di Indonesia. Sejak puluhan tahun silam, para murid bisa memanggil “ibu guru” atau “bapak guru”. Ibu dan bapak adalah sebutak khas.

Di akhir buku, aku berlanjut mempelajari Pantja Dharma Taman Siswa: (1) kemerdekaan; (2) kodrat alam; (3) kebudajaan; (4) kebangsaan; (5) kemanusiaan. Sejak dulu, idealitas pendidikan telah diusahakan. Ikhtiar untuk mencapai idealitas belum selesai. Sekarang, pergantian menteri menimbulkan gejolak-gejolak. Orang-orang mulai diajak berpolemik dengan membandingkan idealitas pendidikan menurut menteri lama dan menteri baru. Begitu.

Iklan