Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Hari demi hari berganti. Aku mengingat tanggal 28 Desember 2014 adalah hari aku memenuhi undangan FLP (Forum Lingkar Pena) Solo. Aku merasa terhormat, diundang untuk mengisi acara FLP dalam urusan menulis. Di Solo, hujan turun tanpa jadwal. Pagi itu mendung dan dingin. Aku bergerak ke kios koran, berbekal uang 5 ribu dan STNK. Koran demi koran aku ambil: membaca sejenak untuk memutuskan membeli. Adegan membuka halaman-halaman Koran Tempo. Eh, ada esaiku berjudul “Menulis Film, Menulis Indonesia”. Di Jawa Pos, ada esaiku berjudul “Sitor, Puisi, Indonesia”. Berlanjut membuka Suara Merdeka, berjumpa halaman berisi tulisanku berjudul “Kelahiran Anak Jawa”. Di Republika, aku membuka halaman sastra. Eh, ada esaiku berjudul “Puisi dan Olahraga”. Langit tetap mendung. Jalan semakin ramai. Aku semringah, berbahagia.

Aku menumpuk 30-an koran. Aku sejenak memandang si penjual koran. Di hati, aku berharap dia mau memaklumi jika aku berhutang. Aku minta tumpukan koran dihitung. Wuih! Aku mengingat angka. Apakah bisa dihutang? Si penjual tak berwajah mendung. Ada wajah berbelas kasih. Koran boleh dibawa pulang dengan hutang. Terima kasih. Uang 5 ribu masih aman. Adegan berlanjut ke Manahan: belanja buku-buku bekas dengan berhutang. Aku berbahagia mesti sarapan. Di rumah, gas habis. Aku tak bisa masak mie atau membuat kopi. Apakah harus berhutang ke warung. Waduh! Aku memutuskan bergerak ke rumah Yu Cathis, berharap ada sajian sarapan. Harapan tak mendapat jawab. Di meja, tak ada makanan. Hi! Aku harus meninggalkan hasrat makan demi mengawetkan kebahagiaan.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Siang, aku bergerak ke Pabelan memenuhi panggilan tugas. 50-an orang sudah duduk manis di kursi. Aku pun berkhotbah dan mengajak mereka menulis sembarangan. Obrolan saat hujan menimbulkan gairah dan bahagia. Mereka mendapat pembagian buku gratis dan koran. Bahagia dibagikan ke para pembelajar. Aku disuguhi kotak berisi makanan. Aku simpan dalam tas. Aku memutuskan tak bakal makan siang sebelum rampung menunaikan tugas. Acara selesai, aku mengajak Ngad bergegas ke warung mie milik Mas Jum, tempat aku berhutang makan saat masih kuliah di UMS. Aku makan mie tergesa. Detik demi detik bergerak, aku mesti segera ke Solopos: siaran sastra. Aku tetap berbahagia!

Aku perlahan ingat buku berjudul Pantjaran Bahagia garapan Soetan Sanif, terbitan W. Versluys (N.V.) Amsterdam-Batavia, 1948. Tebal 147 halaman. Buku bacaan bagi murid kelas V di sekolah rendah. Pengarang memberitahukan maksud menerbitkan buku: “Bila goeroe-goeroe memperhatikan isinja, njatalah, bahwa maksoed boekoe ini ialah oentoek menambah pengetahoean moerid-moerid sambil membatja. Tiap-tiap fatsal mengandoeng beragam-ragam peladjaran, jang kedapatan dalam masjarakat. Ada kalanja peladjaran itoe mengenai sedjarah; ada kalanja mengenai ‘ilmoe hajat dan ‘ilmoe alam; ada kalanja mengenai didikan boedi pekerti.” Wah, buku mujarab untuk menjadi murid pintar. Judul mengajak berbahagia, isi mengajak orang menjadi pintar. Sangar!

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Orang berbahagia pantas membaca buku Pantjaran Bahagia. Aku telah memutuskan menjadi “penggemar” buku-buku pelajaran dan bacaan lawas di SR dan SD. Di Bilik Literasi, ada ratusan buku. Kegemaran untuk kebahagiaan kecil. Berbahagia memerlukan tawa. Aku membaca “Penggeli Hati” di halaman 41-45. Aku mengutip cerita mengenai bocah pandir.

Pada soeatoe hari pak Leman bertanja kepada anaknja: “Man! Apa sebab rapormoe seboeroek ini? Tak maloekah kau melihat rapor kawan-kawanmoe jang lain?

Djawab si Leman sambil menoendoek: “Itoe boekan salahku Pak. Pada pikirkoe tiap hari semoea pertanjaan goeroe ta’seboeahpoen jang ta’ terdjawab olehkoe… Semoea pertanjaan goeroe dengan tepat koedjawab dengan doea patah kata.”

Bapak bertanja: “Kalau demikian kaoe boekan anak jang bodoh. Tapi tjoba katakan, bagaimana djawabmoe kalau goeroe misalnja menanjakan berapa 12 x 12?”

“Djawabnja moedah Pak.”

“Berapa? Tjoba seboetkan!

Oedjar si Leman: “Tidak tahoe.”

Bahagia 3

Klik untuk memperbesar.

Jawaban dua patah kata menghancurkan hati sang bapak. Sedih semakin menjadi meski Leman sulit bersedih. Dua kata adalah senjata mematikan, membuat guru bakal rajin minum obat penangkal pusing, sedih, mual, dan marah. Dulu, aku pernah mirip Leman. Nilai-nilai di rapor hancur alias bertaburan angka berwarna merah. Aku sedih tapi sulit menggapai bahagia. Hari demi hari berganti. Aku perlahan mengalami bahagia saat membaca buku-buku sastra. Oh! Sastra memang telah membahagiakanku saat hidup tampak tak keruan.

Di halaman 140, aku membaca cerita mengandung kebahagiaan. Kehidupan petani di musim panen menerbitkan dan memancarkan kebahagiaan: “Soenggoeh! Menoeai padi adalah sesoeatoe kesenangan jang ta’ terperikan…. kesenangan jang demikian hanjalah dirasai oleh orang tani dan ta’ dapat dioekoer dengan oekoeran apapoen djoega. Keloearga Pak Serang jang banjak mempoenjai sawah itoepoen tentoelah toeroet merasainja. Mereka telah bersiap-siap menerima kedatangan hari jang berbahagia itoe.” Aku tak pernah menjadi petani, berharap ikut berbahagia bersama pak Serang. Petani berhak berbahagia. Esais juga berhak berbahagia. Aku pun selalu ingin memancarkan kebahagiaan meski tak terlalu berarti bagi orang lain. Begitu.

Iklan