Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Sekian bulan lalu, Apresiasi Historiografi Indonesia mengadakan seminar di Jogjakarta, menginginkan ada peringatan Hari Sejarah Indonesia. Peringatan mengacu ke Seminar Sedjarah, 14-18 Desember 1957. Tanggal 14 Desember 1957 saat seminar bertema filsafat sejarah nasional dan periodisasi sejarah Indonesia dipakai untuk menentukan tanggal peringatan. Kalangan sejarawan menganggap hari itu bersejarah, pantas menjadi Hari Sejarah Indonesia. Aku bukan sejarawan. Aku tak menolak atau menerima keinginan Hari Sejarah Indonesia. Di Indonesia, hampir setiap hari adalah hari peringatan. Wah!

Aku pernah membaca buku Sartono Kartodirdjo, mengutip buku laporan Seminar Sedjarah 1957. Tahun lalu, aku berhasil mendapat buku itu dengan kondisi masih pantas dipegang dan dibaca. Buku berjudul Seminar Sedjarah: Laporan Lengkap Atjara I dan II, Konsepsi Sedjarah Nasional dan Periodisasi Sedjarah Indonesia, terbitan Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan, 1958. Tebal 204 halaman. Buku ini penting untuk mengingat seminar bersejarah tentang sejarah di Indonesia. Pelaksanaan di UGM Jogjakarta. Aku menganggap diri termasuk orang beruntung bisa mendapatkan dan mengoleksi buku laporan sebagai acuan mengurusi sejarah. Oh!

Sedjarah 1

Panitia memberi penjelasan di halaman “pengantar kata” mengenai maksud penerbitan buku: “Setjara lengkap dimuat dalam risalah ini prasaran-prasaran dan perdebatan-perdebatan beserta kesimpulan-kesimpulan. Perdebatan dan djawaban pemrasaran diambil dari rekaman tape-recorder jang kemudian diperiksakan kepada pembitjara jang bersangkutan. Sangat disajangkan bahwa sungguhpun telah kami minta berkali-kali beberapa diantara para pembitjara tidak memberikan djawaban, sehingga terpaksa kami muatkan rekaman-rekaman mereka itu sebagai mana adanja.” Laporan kata-kata tentu dilengkapi foto-foto. Aku pantas memberi pujian ikhiar mendokumentasikan memang bakal berfaedah bagi para anak-cucu. Aku membaca sambil membuat imajinasi-imajinasi mengenai suasana, pakaian, makanan, tempat…

Aline pembuka dalam ceramah Muhammad Yamin: Tugas jang dipikulkan Panitia Seminar Sedjarah kepada saja supaja mengkonsepsikan filosofi sedjarah nasional Indonesia, akan saja djalankan dengan segala senang hati, malahan telah saja sambut dengan gembira. Tidaklah sadja hanja waktu dan tempat, melainkan djuga kesempatan untuk mendjalankan tugas itu adalah sangat berbahagia.” Aku memuji Yamin berani memberi ungkapan “sangat berbahagia.” Aku lekas membandingkan “sangat bahagia” dengan pengakuan para profesor saat menjadi pembicara seminar. Aku sering “menonton” profesor tampak “sangat berbangga” ketimbang “sangar bahagia.” Aku artikan “sangat berbangga” beralasan …. Ah, aku enggan membuat daftar alasan. Profesor adalah orang pintar!

Sedjarah 2

Di tengah ceramah, Muhammad Yamin membuat kalimat puitis. Ingat, Muhammad Yamin adalah pujangga. Penggunaan kalimat puitis tak dilarang. Kalimat puitis juga tak menodai intelektualitas. Muhammad Yamin berkata: “… setjara jang lebih njata, jaitu penjusunan dan penulisan sedjarah nasional Indonesia semendjak kemerdekaan telah tertjapai membutuhkan pangkalan fikiran jang bernama filsafah nasional untuk menjusun, menguraikan dan menuliskan sedjarah nasional Indonesia. Antara filosofi sedjarah dengan sedjarah nasional adalah seperti lampu belentjong dengan kelir wajang serta lakon mendjadi penulisan sedjarah.” Muhammad Yami menggemari bahasa-bahasa puitis, mengandung misteri dan berlebihan. Sejarah beraroma imajinasi! Ceramah Muhammad Yamin berjudul Tjatur Sila Chalduniah bersejarah, memberi kontribusi untuk mengurusi sejarah. Muhammad Yamin mendapat pahala. Amin.

Ceramah kedua diberikan cendekiawan ganteng bernama Soedjatmoko. Aku mengaku sebagai “penggemar” Soedjatmoko. Buku-buku Soedjatmoko menjadi koleksi penting di Bilik Literasi. Sekian tahun lalu, aku rajin menulis tentang Soedjatmoko. Aku juga pernah menghormati Soedjatmoko melalui pembuatan acara-acara di Balai Soedjatmoko Solo. Aku mengadakan diskusi-diskusi. Aduh, aku memakai istilah diskusi! Aku cenderung memilih ngudarasa atau obrolan.

Sedjarah 3

Aku memberi perhatian untuk kalimat-kalimat di bagian tengah. Soedjatmoko berkata: “Didalam ilmu sedjarah tiada tempat untuk keadjaiban dan kegaiban sebagai faktor dalam pembeberan sedjarah. Djika sekiranja seorang ahli sedjarah, berdasarkan agamanja, menghubungkan sedjarah dengan pekerdjaan Tuhan atau tjampur tangannja Tuhan dengan sedjarah, akan dipandangnja tjampur tangan itu didalam faktor-faktor duniawi jang sedang berdjalan itu dan bersama-sama mempengaruhi dan menentukan djalannja sedjarah…” Sedjarah berbeda dengan sastra. Aku sering menemukan keajaiban dan kegaiban dalam sastra.

Halaman-halaman berisi pendapat para pendebat dan jawaban dua pembicara membuatku kagum. Ah, kagum. Dulu, orang-orang sudah berdebat sengit untuk membuktikan “kepantasan” pendapat, ditopang argumentasi. Pencatatan perdebatan memberi ajakan menduga intelektualitas para pendebat. Mereka bersuara agar dua makalah tak kesepian dan selesai. Para pendebat pun pantas dihormati sebagai pemberi makna Seminar Sedjarah 1957.

Hari kedua, Sartono Kartodirdjo membacakan makalah berjudul Periodisasi Sedjarah Indonesia. Aku pernah membaca buku biografi Sartono Kartodirdjo garapan Nursam. Cendekiawan ampuh, sejak bocah sudah mengerti jalan intelektual menjadi sejarawan. Bocah desa menjadi sejarawan penting di Indonesia. Lelaki berkaca mata tebal, tak lelah membaca. Mata untuk membaca. Mata sang sejarawan menjelaskan Indonesia. Aku tentu juga pembaca dan kolektor buku-buku garapan Sartono Kartodirdjo. Weh, pengkuanku berulang sebagai pembaca dan kolektor buku Muhammad Yamin, Soedjatmoko, dan Sartono Kartodirdjo. Aku pun tak terlalu bermimpi menjadi ahli waris mereka untuk menjelaskan Indonesia. Begitu.

Iklan