Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Kapal-kapal pencuri ditenggelamkan. Sang menteri bernama Susi geram melihat ulah pencuri ikan di lautan Indonesia. Hukuman dan kutukan harus diberikan agar para pencuri kapok. Puluhan tahun, lautan Indonesia kedatangan ratusan kapal pengeruk keuntungan. Sekarang, sang menteri adalah orang galak dan berani bertaruh risiko. Sang menteri mendapat dukungan sang presiden. Hei, kapal-kapal pencuri masih berani mengibuli Indonesia? Mampuslah! Berita susulan datang dari kunjungan sang presiden ke Korea Selatan. Indonesia memesan tiga kapal dari negeri para artis cantik. Wuih!

Aku membaca berita-berita di koran, melihat di televisi. Kapal sedang menjadi perkara besar, menentukan capaian misi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Kapal menjelaskan kesanggupan pengelolaan laut. Ah, aku jadi ingat Deklarasi Djuanda, 13 Desember 1957. Deklarasi bersejarah tapi dilupakan pada masa Orde Baru. Megawati tampil untuk pemuliaan Deklarsi Djuanda, mengumumkan sebagai Hari Nusantara. Bertambahlah hari peringatan di Indonesia. Aku tak menolak kebijakan Megawati. Aku cuma harus rajin membaca buku-buku mengenai pelbagai hal berkaitan Deklarasi Djuanda. Aku tentu beruntung memiliki buku mengenai Djuanda, terbitan Kompas, 2001. Djuanda adalah negarawan, administrator, dan teknokrat utama. Wah!

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Kapal mengajak diriku membuka halaman-halaman buku berjudul Perkapalan Dagang Modern, terbitan Djambatan, 1951. Aku tak menemukan nama penulis. Buku berukuran panjang. Tebal 48 halaman. Dulu, aku sengaja membeli agar mengerti kapal. Aku bermaksud menulis esai tentang imajinasi kapal menggunakan puisi, cerpen, dan novel. Buku-buku kapal aku anggap penting dibeli dan dipelajari. Penting!

Keterangan di halaman pendahuluan mesti disimak saksama: “Kapal-kapal modern dan seluruh perkapalan pada waktu ini, makin lama makin djauh berbeda dari jang terdapat pada zaman dahulu….” Kapal modern? Aku mulai memanggil ingatan-ingatan kapal dalam dua buku garapan A.B. Lapian. Aku pun mengingat keterangan-keterangan di buku Suma Oriental susunan Tome Pires. Buku ini sengaja aku beli menggunakan uang utangan. Harga 145 ribu. Aku mempelajari sebagai bekal kehadiranku di Temu Akbar II Mufakat Budaya Indonesia di Ancol, Jakarta, 28-30 November 2014. Aku ke Jakarta tak naik kapal. Di Solo, tak ada kapal. Aku sampai ke Jakarta dengan duduk dalam pesawat Garuda kelas ekonomi. Ah, aku berlagak memberi keterangan mirip pilihan sang presiden naik Garuda kelas ekonomi saat ke Singapura.

Kapal 2

Klik untuk memperbesar.

Keterangan lanjutan: “Semendjak abad ke-19, kaju jang sebagai bahan jang terutama dalam pembuatan kapal, telah diganti dengan wadja. Memang wadja lebih berat dari kaju. Meskipun begitu, memakai wadja berarti mengurangi berat kapal, karena bahan-bahan jang diperlukan hanja sedikit , kalau dibandingkan dengan kaju. Sebuah kapal wadja lebih banjak dapat membawa muatan daripada kapal kaju jang sama besarnja.” Aku pasti sulit paham perbedaan “kapal kaju” dan “kapal wadja”. Aku mendingan mengingat film tentang pemusik dalam kapal. Tokoh itu ingin bermusik dan mati dalam kapal. Aku sulit mengingat judul film. Ah, film itu berjudul pakai angka! Aku menonton serius: terharu. Aku terharu ketimbang menonton Titanic. Aku tak bisa membandingkan dengan film Tenggelamnja Kapal Van der Wijck. Aku belum menonton.

Mengapa aku mengingat kapal ke film? Apakah aku ingin bersedih? Tuhan,  kembalikan perhatianku ke buku lagi. Di halaman 18, ada penjelasan mengenai bentuk-bentuk kapal. Aku mesti mengimajinasikan kapal, berbeda dengan nostalgiaku membuat perahu kertas. Berbeda! Aduh, aku ingat lagi film Perahu Kertas. Romantis! Keterangan penting: “Pada kebanjakan kapal, sebagian dari anak-kapal tinggal digeladak-tengah, disebelah depan atau belakangnja. Kapal-kapal penumpang jang besar, adakalanja banjak djumlah geladak-tengahnja jang semata-mata disusun untuk mengangkut penumpang. Meskipun begitu, tiap-tiap kapal mempunjai sedjumlah kamar-kamar pada geladak-atas jang tak berhingga itu. Kamar-kamar itu dipergunakan untuk menginap, tempat menjimpan barang dan tempat bekerdja, sedang bagian jang tertinggi, kurungan-nakoda, disediakan untuk pos komando.” Kapal itu besar. Aku mau ikut naik kapal, mengarungi samudera demi samudera.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Aku mengenal kapal dari gambar-gambar, berlanjut ke teks-tek sastra. Imajinasi kapal membuat mengerti politik, keluarga, agama, asmara, perdagangan…. Kapal mendatangkan kitab suci, orang, tanaman, busana, senjata, salib, ide…. Kapal-kapal berdatangan ke negeri kepulauan. Kapal mendatangkan perubahan-perubahan. Orang-orang dari negeri kepualauan pun berkelana ke pelbagai negeri menggunakan kapal. Mereka memberi nafas perubahan ke negeri-negeri asing. Dulu, kapal adalah simbol agung mengandung ribuan cerita. Sekarang, kapal-kapal di Indonesia adalah sejarah sulit terlupakan. Kapal itu sejarah. Lho! Sejarah ribuan tahun tak diteruskan dengan kebanggaan membuat kapal atau mengutamakan kapal dalam nafsu pembangunan.

Di halaman 43, aku berharap semakin mengerti kapal. Penjelasan singkat: “Tjukup tidaknja perkapalan mempunjai pekerdjaan, bergantung kepada keadaan perdagangan dunia. Kalau keadaan perdagangan beres, kongsi perkapalan banjak kapal-kapalnja. Orang-orangnja dapat menerima didikan jang baik, dan pimpinan organisasinja dapat berdjalan serapi-rapinja. Dalam hal ini banjaklah pertolongan jang dapat diberikanoleh kongsi perkapalan seperti itu untuk kemakmuran negeri.” Aku tak harus ambisius mempelajari kapal. Cukup dan cukup. Begitu.

Iklan