Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Minggu, 7 Desember 2014, aku membaca berita di halaman depan Koran Sindo. Judul berita: Melunturnya Nilai Sakral Pernikahan. Angka perceraian di Semarang untuk tahun 2014 telah mencapai 64.064 perkara. Pengadilan Tinggi Agama dan Pengadilan Negeri tentu sibuk mengurusi perceraian. Faktor paling menentukan perceraian adalah ekonomi, tak ada tanggung jawab, tak ada keharmonisan, gangguan pihak ketiga, krisis akhlak, dan cemburu. Aku tak bermaksud membuat tulisan berkaitan berita di Koran Sindo. Aku berkepentingan mempertemukan berita itu dengan buku berjudul Perkawinan dan Kesehatan garapan A. Seno-Sastroamidjojo, terbitan Balai Pustaka, 1958. Tebal buku 228 halaman.

Di sampul dalam, aku membaca tulisan tangan: “Selamat bahagia atas temanten berdua”. Pembuat tulisan adalah Soeradjin, bertanggal 25 Juni 1959. Oh, buku ini untuk hadiah pernikahan. Apakah orang-orang masih pantas memberi kado bagi para pengantin? Di desaku, kado itu sering berwujud piring, gelas, jam dinding… Kado-kado dibungkus dengan kertas indah, ditaruh di meja pintu masuk ke rumah atau gedung. Tumpukan kado menjelaskan popularitas pengantin dan jumlah teman. Dulu, aku dan Ridho saat mendatangi pernikahan Ratih Kumala dan Eka Kurniawan di Solo cuma berbekal buku berjudul Faust garapan Goethe, terbitan Kalam. Buku itu ada dalam kresek. Aku taruh di meja kado. Sekarang, aku masih membiasakan menghadiahi buku mesti tanpa harus mendatangi resepsi pernikahan. Aku mulai bosan duduk bersama ratusan atau ribuan orang untuk menonton pengantin dan tamu. Weh!

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Buku Perkawinan dan Kesehatan dipersembahkan “pertama-tama kepada isteri saja dan kaum wanita pada umumnja jang bertjita-tjita menudju kearah kesempurnaan dalam perkawinan.” Kalimat dari Seno-Sastroamidjojo biasa tapi penting. Aku sulit mengerti ungkapan “kesempurnaan dalam perkawinan”. Kesulitan diakibatkan kegandrunganku membaca lakon asmara dalam novel-novel Rusia. Kesusastraan Indonesia juga sering berkisah perkawinan menuju sempurna. Novel berjudul Belenggu pantas diingat untuk mengerti arti perkawinan di Indonesia.

Seno-Sastroamidjojo mengingatkan bahwa perkawinan menjadi usaha untuk “mentjapai keutamaan, kebahagiaan, kesempurnaan hidup”.  Pemerintah, ulama, orang tua, tokoh publik bertugas memberi penerangan agar ada capaian idealitas perkawinan. Undang-undang, ceramah, nasihat sering menjadi acuan membuktikan tujuan perkawinan meski sulit. Di Indonesia, urusan perkawinan bisa menimbulkan rapat heboh di pemerintahan, demonstrasi di jalanan, atau gugatan di pengadilan. Sejarah undang-undang perkawinan adalah sejarah mengandung polemik.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Buku ini berisi penjelasan-penjelasan mengenai kesehatan, tak terlalu berisi seruan-seruan moral. Ingatan atas tradisi Jawa sempat ditulis secara ringkas: “Didalam bahasa Djawa Tengah adalah suatu pepatah jang inti-patinja berbunji: ‘Wong wadhon iku tetimbanganing hurip wong lanang’ (kaum wanita ialah perimbangan-setimbang dalam hidup kaum laki-laki). Pepatah itu menurut perasaan saja tepat sekali, sangat luas dan dalam artinja terhadap suasana perkawinan dan oleh karenanja patutlah diinsjafi benar-benar hendaknja.” Di Jawa, nasihat-nasihat terlalu menjadi pedoman bagi kemauan menikah. Nasihat bisa membebani jika berulang disampaikan menggunakan bahasa-bahasa menakuti. Di desa, orangtua biasa berkata: “Ora gampang omah-omahan.”

Perkawinan mengingatkanku dengan urusan seks. Seno-Sastroamidjojo menulis: “Menjelenggarakan pendidikan kelamin (seksuil) dengan sungguh-sungguh pada anak-anak kita dimasa sekarang memang tidak mudah, dan akan menemui pelbagai djenis kesulitan, jang bersama merupakan keberanian istimewa.” Sekarang dalam buku ini berarti 1958. Sekarang, 2014, orang-orang tentu gampang mengetahui seks meski tak harus sesuai penjelasan-penjelasan baku sesuai petuah dokter, orangtua, dan pemerintah. Aku biasa mendengar orang mengatakan “kawin” mengarah ke seks. Istilah perkawinan biasa diganti pernikahan untuk mengurangi imajinasi-imajinasi seks, kelonan, percumbuan….

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Di pameran buku Islam, aku mulai sering melihat buku-buku bertema perkawinan. Buku tentu bercap Islam, menggunakan judul-judul bagus dan ideal. Apakah buku-buku itu laris? Dugaanku laris dan memberi pengaruh besar. Aku memuji kemauan orang-orang membaca buku-buku bertema pernikahan sebelum mereka ke KUA dan dipamerkan dalam resepsi pernikahan.

Buku garapan Seno-Sastroamidjojo termasuk buku penting pada masa 1950-an. Aku berharap mendapat kesaksian dari pembaca. Apakah mereka berhasil mendapat faedah-faedah setelah membaca buku? Aku bersegera membuat konklusi bahwa buku penting untuk pernikahan. Aku sering berpesan ke teman-teman: “Rajinlah membaca buku. Taruhlah buku-buku dalam kamar. Bersanggamalah dalam kamar berbuku….” Aku bermaksud menjelaskan bahwa agenda literasi bermula sejak malam pertama sampai pengasuhan anak. Aduh, aku tak pantas memberi nasihat tak bijak. Lho!

Buku bertema perkawinan menjelaskan pelbagai persoalan. Di Indonesia, penulisan dan penerbitan buku-buku bertema perkawinan diperlukan setiap saat. Buku bakal laris jika KUA atau pemerintah berkepentingan menjadikan buku-buku adalah bagian dari penerangan ke publik. Calon pengantin diajak sinau dengan membaca buku-buku agar ada kepahaman. Mereka tak cuma disodori “buku pernikahan” dengan cap pemerintah dan ditebus dengan ongkos ratusan ribu rupiah. Begitu.

Iklan