Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Bagiku, Sajuti Melik adalah tokoh bersejarah dalam urusan mengetik. Sajuti Melik adalah tukang ketik naskah proklamasi. Tukang ketik itu masih muda dan revolusioner. Aku mengimajinasikan Sajuti Melik mengetik dengan semangat, merasa huruf-huruf bersuara merdeka. Mesin ketik adalah mesin bersuara merdeka, menampilkan huruf-huruf untuk merdeka. Eh, Sajuti Melik juga pemikir dan penulis. Sangar dong!

Aku membaca buku berjudul Antara Marhaenisme dan Marxisme garapan Sajuti Melik (1958) dengan nama pendek Juti. Tebal 64 halaman. Buku diterbitkan oleh Jajasan Badan Penerbit Pembimbing Rakjat, beralamat di Salemba Tengah 60-A, Jakarta IV/8. Masa 1950-a, Indonesia sedang mabuk ideologi. PKI mulai membesar. PNI ingin menjadi pengisah Indonesia. Partai politik berhaluan Marhaenisme dan Marxisme juga berebut suara, ingin tampil paling berpengaruh. Polemik dan konflik berlangsung di parlemen, koran, majalah, pamflet, buku, dan rapat umum. Mabuk ideologi berisiko besar ketimbang mabuk asmara. Aku jadi ingat lirik lagu hampir sendu: “Cintaku klepek-klepek karena dia…” Dulu, kaum politikus klepek-klepek oleh ideologi. Mereka berani putus cinta atau modar demi ideologi. Wah!

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Pengantar kata untuk buku ditulis oleh A. Notohadiwidjojo: “Marhaenisme adalah suatu isme jang sangat besar pengaruhnja dalam kehidupan bangsa Indonesia. diketemukan dan dirumuskan oleh Bung Karno dalam tahun 1927 dulu. Didjadikan azas oleh partai-partai besar didjaman pendjadjahan dulu dan didjaman kemerdekaan sekarang ini. Didjaman pendjdjahan dulu mendjadi azas dari P.N.I. tahun 1927, Partindo pada tahun 1931 dan Gerindo tahun 1937. Didjaman kemerdekaan ini mendjadi azas dari P.N.I. jang sudah didirikan pada awal 1946 dan Partindo jang baru sadja didirikan sesudah pertengahan tahun 1958 ini.” Sajuti Melik merasa bertanggung jawab memberi pemahaman ke publik agar tak keliru mengartikan Marhaenisme dan Marxisme saat Indonesia sinau demokrasi. Sajuti Melik adalah anggota dari Dewan Pimpinan Pusat PNI. Buku diterbitkan sebagai penerangan dan propaganda.

PNI sedang tebar pengaruh, berharap mengulangi kemonceran saat digerakkan oleh Soekarno. Di halaman awal buku, kita temukan ada iklan: “Harian Suluh Indonesia, njata dalam berita, tegas dalam analisa, tersebar diseluruh Indonesia.” aku mengetahui Suluh Indonesia adalah suara PNI. Aku belum pernah mendapatkan Suluh Indonesia untuk bacaan dan koleksi. Barangkali tak perlu waktu lama lagi aku bakal belanja Suluh Indonesia di baku-bakul buku dan majalah lawas. Amin.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Sajuti Melik menjelaskan pemicu polemik sengit: “Partindo menjatakan, bahwa Marhaenisme-nja adalah Marhaenisme Bung Karno, jakni Marhaenisme jang disesuaikan dengan situasi Indonesoa. Atau, dengan kata-kata jang lebih mudah dimengerti, marxisme jang dilaksanakan (toegepast) di Indonesia. Sedang Marhaenisme P.N.I. dinjatakan sebagai Marhaenisme jang lain dengan Marhaenisme Bung Karno, oleh karena P.I. menolak Marxisme. Aduh, penggunaan “oleh karena” mengingatkanku dengan lagu cengeng: “Oleh karena hatiku setia, sebab itulah… Dari hari ke hari aku selalu merindui…” Aku ingat judul lagu: Adakah Setia. Dulu, orang-orang partai politik bersaing paling setia dengan Marhaenisme dan bersetia dengan ajaran-ajarang Bung Karno. Orang tak setia tentu dihinakan. Wah, politik mirip asmara picisan!

Sajuti Melik atau Juti perlahan memberi penjelasan gamblang agar orang-orang tak salah memahami polemik antara PNI dan Partindo. Juti menulis: “Marhaenisme adalah isme-nja (ilmijah) kaum marhaen, isme-nja kaum kromo, isme-nja kaum rakjat djelata. Isme untuk memperbaiki nasib, isme untuk memerangi kemiskinan, isme untuk merebut kekuasaan, isme untuk mengatur negara dan isme untuk mewujudkan masjarakat adil dan makmur.” Marhaenisme mengandung pengertian “sempurna”. Ah, aku jadi ingat telah selesai membaca buku terbitan Marjin Kiri berjudul Marhaen dan Wong Cilik garapan Retor A.W. Kaligis. Pemberi kata pengantar adalah Joko Widodo, sebelum menjadi presiden.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Penjelasan Juti tidak sempurna jika tidak mengutip penjelasan Soekarno. Aku merasa ada sikap bersetia dengan Soekarno. Aku sajikan kutipan bersumber dari pidato Soekarno: “Marhaenisme bukannja ilmu untuk memperkaja diri sendiri, melainkan ilmu untuk mengabdikan diri kepada masjarakat… Marhaenisme hendaknja dimiliki oleh setiap orang jang gandrung akan kemerdekaan dan gandrung akan keadilan dan kemakmuran.” Sekarang, Joko Widodo adalah presiden. Pelbagai seruan dan gerakan mengandung ajaran-ajaran bernama Marhaenisme meski tak terlalu digamblangkan. Marhaenisme masih ada dan mengisahkan Indonesia. Soekarno memang memberi warisan elok dan sangar. Sip!

Aku terkejut membaca penjelasan mulai halaman 38. Juti memberi judul Sangkan Paraning Dumadi. Aku harus sadar sedang membaca buku politik, bukan buku mistik. Rumusan sangkan-parang Marhaenisme: “Marhaenisme adalah ilmu perdjuangan dan pandangan hidup kemasjarakatan berdasarkan kenjataan hidup massa marhaen (sebahagian terbesar kaum tani ketjil dan kaum tani tidak bertanah) di Indonesia, menghadapi pertengahan abad ke XX.” Buku kecil ini semakin menggodaku untuk terus mengumpulkan buku-buku mengenai Marhaenisme. Aku pun semakin mengerti gerak politik dan intelektualitas Juti. Ah, pengatahuanku dulu memang cethek, menganggap Sajuti Melik cuma tukang ketik. Begitu.

Iklan