Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Siang itu gerimis. Aku berangkat ke warnet, mengirim esai dan resensi ke pelbagai koran. Upacara mengirim tulisan membuatku selalu merasa memiliki kehormatan meski selama seminggu kesulitan menjadi orang berduit. Oh! Miskin tak bisa membatalkan gairahku menulis dan membaca. Ah, aku ingat puisi Joko Pinurbo berjudul Semoga, kisah sang pengarang bermerek “semoga”. Ketekunan menulis mengandung “semoga” saat rezeki tak selalu pasti. Puisi dari sang pujangga jenaka membuatku mesem. Diriku berbeda dengan sang pengarang dalam puisi dua bait.

Aku lekas bergerak ke markas Joglosemar, mengambil rezeki dari esaiku berjudul Pendidikan Itu Gerakan. Amplop berwarna putih, berisi dua lembar uang berwarna merah dan biru. Hore! Gerimis semakin puitis. Mataku tak berhujan. Aku menuju Gramedia. Mataku rindu buku-buku baru. Isi amplop bisa berganti buku. Weh, kebahagiaan kecil bagi pembaca. Aku berjalan pelan, memberi tatapan mata cerah. Eh, ada buku berjudul Pendidikan untuk Transformasi Bangsa susunan TIM PGRI, terbitan Kompas. Judul gagah dan sangar. Aku merasa perlu membeli. Buku bertema pendidikan pantas jadi koleksi di Bilik Literasi. Aku telah berjanji untuk setia menulis esai-esai pendidikan. Esai-esai sebagai bukti bahwa aku penggemar menteri-menteri pendidikan di Indonesia, dari masa-masa. Ha!

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Buku itu berharga 49 ribu. Aku tambahkan membeli buku berjudul Hikayat Tanah Hindia garapan G.J.F. Biegman. Buku dari tahun 1894, dicetak ulang oleh Octopus. Bahasa sudah dibenahi sesuai bahasa Indonesia sekarang. Gambar sampul berbeda dengan gambar semula. Judul juga berubah. Judul asli adalah Enambelas Tjerita pada Menjatakan Hikajat Tanah Hindia. Harga 60 ribu. Aku masih memiliki uang. Pulang. Aku mampir beli gorengan: pesta kecil bagi pembaca-penulis. Jajan gorengan 7 ribu saat gerimis adalah kenikmatan. Di Bilik Literasi, membuat kopi-susu dan santap gorengan. Ada jazz di komputer. Wuih!

Oh, aku ingat buku lawas bertema pendidikan. Buku itu tak utuh, hilang halaman-halaman belakang. Judul buku: Menudju Pendidikan dan Pembangunan Masjarakat, terbitan Djawatan Pendidikan Masjarakat Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan, 1953. Buku ini dokumentasi konferensi keliling. Sejak Anies Baswedan menjadi menteri, situasi pendidikan di Indonesia rawan geger dan polemik. Sekarang, polemik Kurikulum 2013 membuat orang-orang pamer komentar dan beradu argumentasi. Aku pun menulis esai-esai mengenai kurikulum.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Mohamad Yamin dalam halaman sambutan berpesan: “Pendidikan masjarakat jang ingin merangkaikan usahanja dalam seluruh kehidupan masjarakat hanja akan berhasil djika ada kerdjasama dengan seluruh aparat pemerintah dan organisasi-organisasi masjarakat jang mengusahakan pembangunan…. Mudah-mudahan konferensi berhasil memberi sumbangan jang berguna bagi dunia pendidikan dan pembangunan masjarakat Indonesia chususnja.” Pak menteri juga berideologi “semoga”, mengingatkan sang pengarang “semoga”. Apakah Mas Menteri Anies juga menganut ideologi “semoga”? Aku tak tahu.

Apakah misi konferensi keliling? Aku bisa menemukan sedikit jawaban di halaman 28. Ada penjelasan penting: “Perhatian pemerintah kita dari sehari kesehari bertambah terus hingga telah mempunjai niat untuk menggerakkan usaha pemberantasan buta huruf ini setjara besar-besaran. Hal ini ditindjau oleh pemerintah kita disamping dari sudut ilmu pendidikan, djuga dari sudut politik didalam berusaha mempopulerkan bangsa dan negara didunia internasional.” Wah, Soekarno memiliki tugas besar: mengentaskan jutaan orang agar bisa membaca dan menulis. Aku pernah melihat foto program pemberantasan buta huruf di buku berjudul Tanah Air. Soekarno tak cuma memberi perintah. Soekarno juga pernah mengajar agar orang-orang di desa melek aksara.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Aku anggap informasi-informasi di buku ini penting. Ada foto-foto juga. Aku tentu harus mengutip konferensi pendidikan di Solo. Deskripsi situasi Solo masa 1940-an: “Dalam tahun 1943 setelah ternjata bahwa dalam masjarakat Solo didjumpai kebutuhan pengetahuan disebabkan tiada kemungkinan untuk menambahkannja, maka atas inisiatief Sdr. Brodjonegoro didirikan suatu Volksuniversiteit jang dinamakan Balai Pengatahuan Umum dan jang dibiajai oleh Pemerintah Surakarta.” Pendidikan adalah urusan penting. Solo memang ruang sejarah dalam pendidikan. Sekolah pendidikan guru pernah dibentuk di Solo, abad XIX. Sejarah para sastrawan dan pemikir juga pernah ada di Solo. Mereka menempuhi pelajaran di AMS. Kapan aku bisa menulis sejarah pendidikan di Solo? Ah, semoga.

Konferensi keliling diadakan di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Aku perlu membaca saksama informasi-informasi di Jogjakarta. Orang-orang menjuluki Jogjakarta adalah “Kota Pelajar” atau “Kota Pendidikan”. Konferensi diadakan di Kulonprogo. Penjelasan mengenai kemajuan Kulonprogo: “Dalam lapangan pendidikan dan pengadjaran, bila dibandingkan dengan daerah lainnja, tjukup dikatakan madju. Sudah sedjak zaman Hindia-Belanda kita dapati sekolah Schakel-school, H.I.S. Sedang dewasa ini menundjukkan langkah kemadjuannja. Disamping sekolah-sekolah menengah negeri, kita dapati S.M. Bopkri, S.M. Islam, S.M. Katolik dan djuga SGB.” Keberadaan sekolah-sekolah mengartikan Kulonprogo itu maju. Sejak dulu, sekolah memang simbol “kemadjoean”. Begitu.

Pendidikan 4

Klik untuk memperbesar.

Iklan