Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku sengaja mengoleksi buku atau brosur pidato-pidato. Niatku mempelajari pidato-pidato adalah mengerti cita rasa bahasa dan ketokohan. Aku tentu tak abai pesona pemikiran. Pidato-pidato membuat Indonesia, sejak awal abad XX. Pidato-pidato juga mengesahkan Indonesia sebagai negeri bersuara. Wuih! Tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan adalah orator atau pemberi suara atas kebermaknaan bangsa-negara. Mereka tal lelah berpidato di hadapan publik. Pidato itu siasat mujarab menggerakkan ide-imajinasi Indonesia. Ah, aku jadi ingat Tjipto Mangoenkoesoemo, H.O.S. Tjokroaminoto, Muhammad Yamin, Agus Salim, Soekarno…. Di Indonesia, pidato-pidato didengarkan dan dibukukan. Pidato bisa bermula dari pengucapan atau tulisan.

Sekian hari lalu, aku membeli dua buku berisi kumpulan pidato Daoed Joesoef saat masih menjabat sebagai menteri. Pidato-pidato dalam pelbagai acara dibukukan. Aku memiliki dua, masih belum lengkap. Dua buku itu aku beli dari pedagang bernama Ribut. Eh, aku jadi mengerti: keinginan mengerti ketokohan dan pemikiran perlu mempelajari pidato. Dulu, aku mengaku di hadapan kaum cendekiawan di Ancol dalam Temu Akbar II Mufakat Budaya Indonesia 2014: “Aku adalah penggemar menteri-menteri pendidikan di Indonesia.” Pengakuan itu membuat mereka “tertawa”. Apakah mereka  menganggapku lucu atau kurang ajar? Di sana, aku menikmati pembacaan makalah oleh Daoed Joesoef. Pulang dari Jakarta, aku duduk membuka halaman-halaman dua buku berisi pidato-pidato Daoed Joesoef, berasal dari puluhan tahun silam.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Eh, aku tak sedang mengurusi Daoed Joesoef. Aku ingin mengurusi menteri pendidikan pertama bernama Ki Hadjar Dewantara. Dulu, Ki Hadjar Dewantara dianggap penentu dan penggerak arah pendidikan Indonesia, sejak masa kolonial sampai kemerdekaan. Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi menteri, bertanggung jawab dalam urusan pendidikan. Setelah dilantik, Ki Hadjar Dewantara dan keluarga mengadakan pesta kecil: jajan bakmi. Nikmat! Si anak membeli bakmi dari pedagang bakmi keliling di jalan. Pesta murah dan sederhana.

“Pesta” paling bersejarah justru dialamai oleh Ki Hadjar Dewantara saat menerima penghargaan doktor honoris causa dari UGM, Jogjakarta, 1956. Pesta itu berisi pidato-pidato kalangan pemerintah, kampus, dan Ki Hadjar Dewantara. Pendokumentasian terbit menjadi buku berjudul Masalah Kebudajaan: Kenang-Kenangan Promosi Doctor Honoris Causa, dikeluarakan oleh Badan Penerbit Taman Siswa, Jogjakarta, 1957. Peristiwa bersejarah. Buku pun bersejarah jika kita membaca setelah melewati tahun demi tahun.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Mengapa Ki Hadjar Dewantara mendapatkan doktor honoris causa? Aku temukan jawaban di halaman 6: “Ki Hadjar Dewantara adalah perintis dalam tiga lapangan, ialah perintis kemerdekaan nasional, perintis pendidikan nasional, dan perintis kebudajaan nasional, maka ditetapkanlah oleh Senat Universitas Gadjahmada dasar jang lebih luas dan setepatnja, ialah sebagai ahli dalam ilmu-kebudajaan.” Aku tentu memahami istilah perintis berkonteks sejarah. Sekarang, perintis itu sebutan untuk pasukan di militer. Lho!

Prof. Dr. M. Sardjito memberi pidato selaku Presiden UGM. Pidato mengenai Ki Hadjar Dewantara dan Indonesia. Aku membaca sungguh-sungguh: “Sedjarah Sdr. Ki Hadjar Dewantara dilanjutkan dengan masuk mendjadi guru disekolah Adidarma, kepunjaan kakaknja R.M. Soerjopranoto pada tahun 1921. Sesudahnja berpraktek satu tahun lamanja, maka Ki Hadjar Dewantara bertjantjut tali wondo dimulai dengan mengangkat pekerdjaan jang mendjadi besar, pekerdjaan jang menakdjubkan…” Kemauan mendirikan Perguruan Taman Siswa (1922) adalah ketakjuban.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Di halaman-halaman pidato Ki Hadjar Dewantara, aku merasa melakukan pelesiran sejarah Indonesia. Keterangan-keterangan Ki Hadjar Dewantara adalah kesaksian dan penilaian. Ki Hadjar Dewantara berkata: “Baru pada tahun 1920 timbullah tjita-tjita baru, jang menghendaki perubahan radikal dalam lapangan pendidikan dan pengadjaran. Tjita-tjita baru tadi seakan-akan merupakan gabungan kesadaran kulturil dan kebangkitan politik. Idam-idaman kemerdekaan nusa dan bangsa, sebagai djaminan kemerdekaan dan kebebasan kebudajaan bangsa, itulah pokok sistim pendidikan dan pengadjaran, jang pada tahun 1922 dapat tertjipta oleh Taman Siswa di Jogjakarta.” Aku mulai berkeinginan menulis lagi esai tentang pendidikan, bermula dari Tan Malaka dan Soerjopranoto, berlanjut ke Ki Hadjar Dewantara. Esai itu dipersembahkan untuk Anies Baswedan.

Buku juga memuat pidato Semaun? Siapa Semaun? Ah, aku tak ingin mengenalkan tokoh terkenal meski mulai dilupakan para pelajar dan mahasiswa di Indonesia. Di masa Orde Baru, nama Semaun dituduh mengungkap “sejarah kiri”. Weh! Semaun berkata: “Saja ingat tahun tiga belas, 1913, waktu saja baru berumur 14-15 tahun, telah membatja kabar mengenai pembuangan jang telah dilakukan oleh pemerintah Belanda waktu itu terhadap Trio, antara mana Ki Hadjar Dewantara. Maka perasaan kebangsaan jang ada pada saja, sebagai djuga jang ada pada anak jang lahir ditanah air, telah digugah oleh kedjadian itu. Selandjutnja dimurupkan sesudah membatja uraian-uraian jang tertulis oleh Ki Hadjar Dewantara.” Aku suka penggunaan ungkapan “murup”. Ungkapan mengandung semangat atau gairah. Bagiku, murup juga mengingatkan adegan pagi hari simbok di pawon. Murup menjelaskan prose memasak.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Di halaman-halaman akhir, aku membaca pidato pendek dari Soekarno. Ki Hadjar Dewantara dianggap “saudara tua”, “kangmas’, “guru saja”. Soekarno berkata: “Mana kala kita beriang gembira, bahwa salah seorang putera Indonesia jang besar, mendapat kehormatan besar diatas persadanja ilmu pengetahuan dan ilmu kebudajaan, marilah kita semuanja, memikirkan akan nasibnja bangsa Indonesia dikemudian hari, jang kemudian hari itu tergantung dari pada keadaan dihari sekarang.” Buku dengan tebal 91 halaman telah selesai dibaca. Aku pun mengenang dan tak harus bercita-cita menjadi Ki Hadjar Dewantara, Sardjito, Semaun, atau Soekarno. Begitu.

Iklan