Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Sebelum tahun 2014 selesai, geger kurikulum belum selesai. Waduh, aku menulis dua kata selesai dalam satu kalimat. Ah, tak apa. Selesai itu… Sang menteri menginginkan ada evaluasi atas pelaksanaan Kurikulum 2013. Aku membaca berita-berita dan artikel-artikel di koran bertema kurikulum. Di Indonesia, kurikulum masuk dalam daftar kata paling laris. Sip! Guru, murid, dosen, seniman, pedagang, kondektur… mudah mengucap istilah kurikulum. Kapan istilah kurikulum mulai digunakan di Indonesia. Jawaban ada di buku-buku lawas.

Sebelum istilah kurikulum digunakan pemerintah dalam kebijakan pendidikan, publik mendapati istilah “rentjana pendidikan”. Kurikulum digunakan pada masa Orde Baru. Istilah “rentjana pendidikan” digunakan pada masa Orde Lama. Sekarang, istilah itu tak digunakan lagi. Anggaplah sirna atau dilupakan. Barangkali para penentu kebijakan pendidikan memang tak menginginkan ada sisa-sisa warisan dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional dan pembangunan. Aku tak menangis. Pembuangan istilah lama dan “pembuatan” istilah baru memang lazim dalam episode-episode kekuasaan di Indonesia.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Di kardus, aku mengeluarkan buku-buku lawas. Di bagian bawah, buku bersampul wagu. Aku ambil dan membaca tanpa ambisi menjadi pakar atau ahli pendidikan. Pilihan membaca buku lawas juga tak menjamin diriku menjadi menteri. Ha! Buku tebal berjudul Rentjana Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar (1964), diterbitkan alias dikeluarkan oleh Direktorat Pendidikan Dasar/Prasekolah, Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudajaan. Buku ini semula menjadi koleksi di SD Pamardisiwi, Surakarta, Jawa Tengah. Aku membeli di pasar buku loak. Buku memiliki moto sangar: “Filsafah Pantjasila mendasari pelaksanaan pendidikan dasar, dan Manipol/Usdek mengarahkan budi, tjipta, rasa, karsa dan karja sang anak.” Politis dan puitis.

“Rentjana pendidikan” mulai diberlakukan pada tanggal 1 Agustus 1964. Indonesia sedang memanas. Pendidikan dan pengajaran harus tetap berjalan meski sulit mengelak dari dampak politik. Moto di buku menjadi wajar jika menilik masa 1960-an. Aku menganggap “penemuan” buku lawas ini memberi ajakan agar aku tak terlena dengan penjelasan Nuh atau Anies. Aku juga bisa agak mengelak dari penjelasan-penjelasan para cendekiawan di koran-koran. Aku pantas menulis tema kurikulum berbekal buku-buku lawas agar ada eling sejarah. Ah, ambisiku tak muluk. Aku cuma bertugas menginformasikan saja.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Di halaman pengantar dari pejabat kementerian, aku menemukan penjelasan-penjelasan penting. Tiga segi “rentjana pendidikan”: (1) pengembangan dan pemupukan sifat-sifat, termasuk pembentukan kebiasaan-kebiasaan, sebagai manusia Pantjasila: (2) Memperkembangkan ketrampilan-ketrampilan jang diperlukan anak-anak dan masjarakat didalam usaha mentjiptakan masjarakat adil dan makmur; (3) Memberikan pengetahuan jang akademis dan fungsionil jang memungkinkan anak-anak dapat melandjutkan pendidikannja ke sekolah-sekolah jang lebih tinggi. Apakah penjelasan ini berarti? Penggunaan bahasa dalam pendidikan sering berlebihan atau berlagak ideal. Aku kadang jemu. Aku malu membaca kalimat-kalimat merepotkan, tak sesuai realitas. Wah, aku menuduh klise meski aku juga klise.

Aku melanjutkan membaca penjelasan-penjelasan di halaman-halaman mengenai TK. Di halaman 14, aku membaca kalimat-kalimat biasa: “Dalam mendjalankan tugas, guru TK harus faham akan dasar-dasar dan tjara pelaksanaan pendidikan. Untuk ini kita perlu mengetahui keadaan anak-anak jang kita hadapi, kita harus mengerti sikap mereka dan mengapa anak-anak itu bersifat demikian.” Aku pernah bermimpi menjadi guru TK. Aku bertepuk tangan dan berdendang. Ah, aku juga ingat saat masih TK: umbelen, cengeng, ngompol di celana… Aku masih ingat nama guru TK: Bu Mul. Aku lupa nama teman-teman saat TK. Aku tak mungkin mengadakan reuni dengan mereka. Lucu jika ada orang memasang spanduk berisi ajakan reuni TK.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Aku beralih ke “rentjana pendidikan” untuk SD. Penjelasan-penjelasan tampak rapi, tertib, baik, dan indah. Aku tentu memuji. SD itu fondasi. Penjelasan ini aku temukan dalam buku. Penjelasan lanjutan: “Apakah hubungan dasar dan tudjuan pendidikan? Dari segi tindakan, dasar dan tudjuan itu sama… Dapat kita katakan Pantjasila adalah dasar dan tudjuan pendidikan.” Aku mengerti bahwa “rentjana pendidikan” mengacu ke politik. Aku juga membaca bahwa pendidikan dasar dimaksudkan membentuk “manusia sosialis Indonesia”.

Pendidikan dasar berhasil jika mengerti tentang sistim pantjawardhana? Apakah pantjawardhana? Di buku, aku menemukan uraian panjang tapi aku cuma memerlukan pengertian dasar. Pendidikan anak berdasarkan aspek-aspek untuk dipupuk secara harmonis: (1) perkembangan moral; (2) perkembangan intelegensia; (3) perkembangan emosional-artistik; (4) perkembangan keprigelan; (5) perkembangan djasmaniah. Penamaan terasa elok meski berisi aspek-aspek umum. Dulu, pembuatan istilah atau sebutan mempengaruhi persepsi atas pendidikan dan politik.

Aku terlambat mengikuti polemik kurikulum tapi mulai memutuskan mempelajari sejarah kurikulum untuk mengerti Indonesia. Buku-buku lawas mesti dibaca kembali, membuat catatan dan menempatkan dalam esai agar ada acuan ke masa lalu. Sejarah kurikulum adalah sejarah dokumen dan buku. Sekarang, penciptaan sejarah kurikulum digenapi dengan berita, artikel, karikatur, dan foto di koran. Sejarah juga bergerak melalui komentar-komentar di media sosial. Aku pun turut menulis sejarah kurikulum berbekal buku-buku lawas dan baru. Begitu.

Iklan