Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

19-21 Desember 2014, ada Pameran Kamus dan 3 Hari Sinau di Bilik Literasi. Teman-teman berkumpul untuk menatap, memegang, dan membaca kamus-kamus. Sejak dulu, aku mulai mengumpulkan pelbagai kamus: dipelajari dan referensi menulis esai. Teman-teman asal Makassar, Seram, Padang, Solo, Madura, Semarang… hidup bersama: sinau, makan, tidur, mencuci, melamun… Obrolan tentang kamus menggairahkan! Aku mengajak teman-teman membuat kamus asmara. Di depan komputer, kami berkerumun saat hujan rintik-rintik: siang hari. Aku memilih lagu-lagu bertema asmara. Lagu menjadi dalih membuat kamus: puitis, dramatis, romantis, sadis… Aku merasa tak tua. Lagu-lagu itu biografiku. Walah!

Minggu, aku belanja buku dan koran. Teman-teman sarapan. Aku memilih makan huruf-huruf. Ada pesan pendek dari teman. Aku membaca: “JJ Rizal mengabarkan jika Sitor Situmorang meninggal.” Aku lekas ingat tulisan Afrizal Malna di Koran Tempo, sekian hari lalu. Afrizal Malna mengunjungi Sitor Situmorang di Belanda. Esai laporan kunjungan berisi nostalgia, bahasa, pengembaraan, sastra….  Aku juga mengingat koleksi buku. Sejak lama, aku membaca puisi, cerpen, drama, dan esai Sitor Situmorang. Buku-buku aku cari untuk ditumpuk agar ada siasat mengingat hubunganku dengan Sitor Situmorang.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Aku termenung saat membaca lagi buku berjudul Wadjah Tak Bernama (1955) terbitan P.T. Pembangunan, Jakarta. Barangkali ini buku paling awal dalam koleksiku  untuk garapan sastra Sitor Situmorang. Kondisi buku rusak. Halaman-halaman mulai berlepasan. Seingatku, buku ini aku beli di toko buku Budhi Laksana, Purwosari, Solo. Kapan? Di halaman awal, bagian pojok atas, aku membaca tulisan tanganku: Michekanthropus 9/8 ’98. Ah, aku jadi ingat masa SMA. Buku ini aku miliki saat aku masih kelas 2 di SMAN 2 Sukoharjo. Michekanthropus adalah julukan bagiku saat masih di SMAN 2 Solo. Di kelas 1, aku malas bersekolah. Aku rajin membolos, rajin merokok, rajin tidur di kelas. Guru-guru sering memarahi dan menasihati. Eh, ada guru memberi julukan bagiku Michekanthropus, berdalih aku sering tidur di kelas dan ruang UKS. Aku biasa tidur atau “micek” dengan menaruh kepala di atas meja, deretan depan berhadapan meja guru. Aku memang dianjurkan duduk di depan agar dipastikan tidur alias tak merusak suasana belajar atau bikin onar. Wajahku sering kelihatan mengantuk. Seingatku, wajahku jelek dan pakaian tak pernah rapi. Eh, masa lalu tak baik. Lihat, di bagian bawah: cap jempol menggunakan tinta berwarna biru. Aku memang tak membuat tanda tangan.

Buku dengan tebal 24 halaman. Kemasan sederhana tapi memikat. Buku ini pernah aku baca saat belum mengerti kesusastraan. Dulu, aku memilih membaca buku-buku sastra untuk bertobat. Buku puisi Sitor Situmorang pun berpengaruh dalam siasat membentuk diri sebagai lelaki beradab meski jelek, bodoh, dan miskin. Puisi pertama berjudul Bangun. Puisi mengejek kebiasaan lelaki “micekan”. Sitor Situmorang menulis: Tidurnja: kedjalangan perempuan,/ Bangunnja: kesepian disugukan,/ Ratjun menjebar ditubuh,/ Tak ada jang mengeluh. Puisi bisa bertanda seru bagi pembaca meski di buku menggunakan tanda koma dan titik. Oh!

Sitor 2

Klik untuk memperbesar.

Pengetahuan tentang Sitor Situmorang perlahan bertambah saat membaca majalah Horison, Budaya Jaya, Tempo… Sitor Situmorang masuk dalam daftar pujangga pujaan. Murid SMA dan ragil dari Mbok Jinah memutuskan mengidolakan pujangga ketimbang pemain sepakbola, artis, politikus, atau ulama. Wuih! Puisi-puisi gubahan Sitor Situmorang menjadi bacaan impresif ketimbang tumpukan buku pelajaran. Aku berlagak menulis puisi: mengikuti jalan Sitor Situmorang, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Subagio S, Rendra, Afrizal Malna… puluhan tahun sesudah janji menjadi pujangga, puisi-puisi terbit di Sindo, Gong, Media Indonesia

Dulu, aku terkesima dengan puisi berjudul Bunga Batu. Sitor Situmorang membuktikan ketangguhan imajinasi dan keprigelan berbahasa. Pujangga asal Danau Toba itu menulis: Kurasa kau tahu, lebih dari lagu/ Kebisuan lebih berkata dari duka/ Karena ditinggalkan ia maka setia/ Pengetahuan, lama sudah membatu// Kini di atasnja tumbuh bunga/ Indah seindah raut wadjahmu/ Semerbak kenangan sepahit empedu/ Darah hitam jang mewarnai djiwa// Seribu tahun sebelum kita dan nanti/ Dari dalam tanah orang menggali/ Wadjah tertera pada lapisan batu/ Bergaris tjerita mati – masih terharu. Puisi apik!

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Aku tak pernah bertemu Sitor Situmorang. Aku cuma pernah mengadakan acara obrolan buku Menimbang Sitor Situmorang di Balai Soedjatmoko Solo, sekian tahun silam. Aku dan JJ Rizal saling berkisah tentang Sitor Situmorang saat teman-teman sastra di Solo tak mengakrabi Sitor Situmorang. Aku masih ingat memberikan buku Djalan Mutiara ke JJ Rizal sebagai hadiah kecil. Sejawaran kondang itu semringah mendapat buku incaran. Eh, ketemu buku itu di Solo.

Kabar kematian Sitor Situmorang tak mengejutkan. Kabar itu menuntunku membaca ulang puluhan buku garapan Sitor Situmorang. Aku pun ingat ulasan Subagio S. Aku tak lupa mempelajari buku J.U. Nasution, berasal dari skripsi di UI. Buku awal tentang ulasan puisi dan cerpen Sitor Situmorang. Aku telah menulis resensi buku mengenai Sitor Situmorang, menulis esai-esai mengutip puisi dan pemikiran Sitor Situmorang. Sekarang, aku mengenang Sitor Situmorang dan mengenang diri saat memutuskan menempuhi jalan sastra. Begitu.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Iklan