Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Di pelbagai tempat, film berjudul Senyap dilarang untuk ditonton. Pelarangan dilakukan oleh organisasi bercap “agama”. Wah! Film itu dituduh membangkitkan lagi komunisme. Film pun “dimusuhi”. Sejarah tak berubah. Mereka menganggap komunisme sesuai tafsir (warisan) rezim Orde Baru. Kaum seniman dan intelektual prihatin. Apresiasi film telanjur dituduh mengandung agenda komunisme. Tulisan-tulisan bermunculan di koran-koran. Pelarangan menonton Senyap dianggap bukti “kebebalan” sejarah.

Aku belum menonton film Senyap. Aku juga tak menulis untuk koran. Aku malah menulis esai berjudul “Menulis Film, Menulis Indonesia” di Koran Tempo, 28 Desember 2014. Kejadian pelarangan mengingatkanku dengan buku berjudul Tugas dan Peranan Generasi Muda Islam dalam Pembinaan Orde Baru (1967) garapan K.H.M. Isa Anshary, terbitan Jajasan Pembina Ruhul Islam. Ukuran buku kecil, tebal 143 halaman. Judul buku terasa formal, kurang menggoda. Weh! Aku tetap saja memaca, ingin mengerti pemikiran-pemikiran menghajar Soekarno dan PKI. Buku dipersembahkan “kepada generasi muda Islam diseluruh tanah air tertjinta!” Penulis pasti mengartikan buku penting bagi Indonesia. Sip! Aku harus membuktikan khasiat isi buku.

Komunisme 1

Pihak penerbit memberi penjelasan: “Bagi kami, buah-kalam K.H.M. Isa Anshary jang telah lama kita kenal sebagai pedjuang Islam jang gigih, jang tidak sadja penting karena uraian-uraiannja jang tepat dan djitu, tetapi pula karena naskah inilah jang merupakan hasil-karja beliau jang pertama setelah bebas dari pendjara rezim 100 menteri.” Pujian berlebihan dari penerbit pada penulis. Waduh, aku menduga buku adalah “buku kemarahan”. Apakah memang berisi kemarahan?

Isa mengantar buku dengan kalimat-kalimat khotbah bertanda seru: “Untuk semua itu kulepaskan karangan ini dengan harapan dan kepertjajaan, semoga ia mendjadi sumbangan dalam memenuhi amanat sutji, membela kebenaran dan menegakkan keadilan. Bagi pembela kebenaran dan penegak keadilan, djalan masih pandjang dan rantau masih djauh!” Aku membaca buku ini, setelah melewati puluhan tahun. Kemarahan tentu berbeda rasa saat aku membaca sebagai manusia di abad XXI.

Komunisme 2

Kemarahan puitis: “Lapisan awan telah pernah menjelimuti seluruh langit kita. Udara dan tjuatja mendjadi gelap semata dan dimana-mana. Hantu komunisme merajap dan berkeliaran menaburkan kemusnahan dan kehantjuran kemanusiaan.” Pembukaan itu menuruti seruan Karl Marx, sejak abad XIX. Oh, ajaran Marx mempengaruhi orang berpikir-bertindak secara puitis. Wuih! Dulu, Karl Marx saat muda memang pujangga beraliran romantik. Maxz berjenggot tak lagi pujangga tapi tak lupa puisi.

Isa memiliki kepastian untuk menghajar PKI dan Soekarno. Sejak halaman awal sampai akhir, aku sering menemukan susunan kalimat konfrontatif: Isa menghadapi PKI dan Soekarno. Isa tampak perkasa dan tangguh. Aku pamerkan kutipan: “P.K.I. mendjadi kuat, kuasa dan perkasa. Kuat, karena kekuatan jang menentangnja telah dihantjurkan. Kuasa, karena mereka telah menduduki posisi jang penting dalam negara, malah telah mendjadi tukang dikte jang dipatuhi oleh Presiden Soekarno. Dengan segala kemegahan, merah dan meriah, kaum komunis telah bersilantas-angan sadja bergerak dalam segala bidang kehidupan.” Isa adalah pembenci PKI, berani bermusuhan dengan pelbagai risiko. Aku cuma membaca, berharap mengerti situasi batin dan pemikiran Isa dalam menuliskan “kemarahan” dan berikhtiar menjelaskan masa depan melalui Orde Baru.

Komunisme 3

Isa adalah representasi situasi 1960-an: keruntuhan rezim Soekarno berganti ke rezim Soeharto. Aku merasa ada argumentasi Islam dan pengalaman diri bercampur untuk memusuhi PKI. Aku pun mengerti ada latar dan jejak panjang pada masa silam. Isa lugas menulis: “Bukankah bekerdjasama dengan P.K.I. dalam Nasakom adalah mentjampuradukkan, antara kebenaran Islam dengan kepalsuan komunisme? Bukankah bekerdjasama dengan P.K.I. dalam Nasakom adalah bergotong-rojong dalam berbuat dosa dan permusuhan… Sungguh masa Nasakom adalah masa seleksi dan kristalisasi!” Dulu, aku bertumbuh dalam seruan serupa. PKI dimusuhi menggunakan argumentasi dalam Islam, ditambahi alasan-alasan sejarah politik mengacu ke penjelasan rezim Orde Baru.

Pengertian agak berubah saat kuliah. Buku-buku mengenai PKI dan Soekarno aku pelajari, berbarengan menekuni buku-buku bertema Islam. Aku tak lagi harus berlaku sebagai “pembaca marah”. Aku mesti reda untuk berikhtiar mengerti sejarah. Buku Isa aku dapati setelah aku membaca buku-buku bertema PKI garapan para sarjana Indonesia dan asing. Aku tentu dipengaruhi bacaan itu saat membaca buku Tugas dan Peranan Generasi Muda Islam dalam Pembinaan Orde Baru. Buku ini memang terlambat dibaca tapi…

Aku merasa Isa menulis buku tak bertujuan “pengetahuan”. Lho! Buku bisa aku anggap propaganda. Kalimat-kalimat pantas ditulis ulang dalam poster-poster untuk demonstrasi. Kalimat-kalimat diucapkan keras di jalan. Aku berharap mengerti biografi Isa saat menanggung represi dan hukuman pada masa Orde Lama. Isa berseru: “Zaman diktator 100 menteri telah lenjap dan harus lenjap. Zaman diktator demokrasi terpimpin sudah lalu dan harus lalu. Tangan-tangan kezaliman jang berlumuran darah tidak boleh memainkan peranannja lagi. Kepalsuan dan kebathilan harus tumbang. Sikap sewenang-wenang harus berhenti. Tukang-tukang komidi jang bermain selama ini diatas panggung politik sudah mesti turun dan harus turun.” Aku malah ingin Isa menulis novel ketimbang menulis buku mengandung kemarahan-kemarahan. Novel tentu bisa memenuhi hasrat sastrawi Isa untuk mengisahkan Indonesia. Begitu.

Iklan