Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Perempuan itu bernama Jinah. Konon, Jinah saat masih muda adalah perempuan cantik. Alkisah, Jinah menikah dengan Mitro Dirin. Tahun demi tahun, Jinah menjadi ibu alias mbok. Sembilan kali melahirkan. Aku dilahirkan di urutan terakhir. Pak Dirin menamaiku Bandung Mawardi. Panggilan sejak kecil: Mawar. Panggilan romantis, tak sangar atau menjelaskan diriku sebagai preman. Sejak kecil, aku adalah lelaki penuh kasih, lembut, santun, pemalu. Ha! Waduh, apakah ingatanku beres sesuai diriku saat bocah? Ah, aku tak tahu.

Selama puluhan tahun, Mbok Jinah menghidupi anak-anak dengan menu andalan: “jangan tuntut”. Weh, tuntut atau tuntutan? Nasi tak putih, nasi kadang merek kemarin. Di piring, nasi bercampur “jangan tuntut”. Santapan tambahan adalah karak. Di gerobok, karak adalah penghuni tetap selama puluhan tahun. Karak diwadahi di kaleng-kaleng bekas berisi roti. Mbok Jinah tentu tak bermaksud menipuku. Aku melihat kaleng bergambar roti tapi di dalam karak. Mbok Jinah membuat karak dari nasi-nasi pemberian tetangga. Tuntut kadang juga pemberian tetangga. Jangan tuntut dan karak menjelaskan tebaran kasih orang-orang dan doa Mbok Jinah, berharap anak-anak tak lapar dan sehat. Kami bertumbuh besar dengan “jangan tuntut”. Selingan adalah “jangan kates”, “jangan gori”, “jangan kluweh”, “jangan kangkung”, atau “gudangan”. Semua jangan itu sering berasal dari kebun tetangga atau sawah. Mbok Jinah jarang membeli, tak ada uang.

Kami selalu ingat “jangan tuntut” saat mendapat cerita tentang kemauan Mbok Jinah memberi asupan bagi tubuh-tubuh untuk bergerak dan sinau. Di desa, anak-anak Mbok Jinah termasuk kaum pintar. Oh! Aku tak bermaksud pamer kesombongan. Mbok Jinah dan Pak Dirin jadi perhatian. Apakah rumus memiliki anak-anak pintar? Mbok Jinah selalu dan selalu tegas menjawab: “Anak-anak mangan nganggo jangan tuntut.” Jawaban itu menjadi identitas kami. Sekarang, Mbok Jinah sudah tua: tak jemu berbagi cerita masa lalu. Mbok Jinah tidak diperkenankan makan menu macam-macam.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Ingatan itu bertemu buku berjudul Olah-Olahan: Olah-Olahan Djawi, Eropa, Tuwin Sanes-Sanesipun susunan R.A. Soewarsi, terbitan Balai Pustaka, 1967. Cetakan ke-6. Tebal 175 halaman. Buku bersampul apik. Sampul puitis, mengundang selera makan. Pesan penulis bagi kaum perempuan: “Warni-warnining olah-olahan punika menggah ing wanita dados kabetahan ingkang wigatos tumraping tijang balegrija. Awit tijang saged olah-olah ingkang miraos, sarwa ampekai, punapa dene saged ngirit wragad, njata dados dedasaring djaler (bodjo) ingkang remen djadjan, ingkang wosipun namung ngangkah keleganing manah, dupeh boten tjotjog kalijan olah-olahan ing grija. Ingkang makaten punika andadosaken indaking keborosan, tur tamtu mawi ngembet damel boten senengipun ingkang olah-olah (bodjo).” Aku ingat Mbok Jinah, berlaku ngirit dan berdoa agar semua makanan untuk suami dan anak-anak memberi kekuatan. Mbok Jinah tak mengajarkan jajan.

Di buku, aku membaca pelbagai jenis olahan: jangan lodeh, gudeg gori, kare, soto, sambel goreng, sop, pecel, semur, jangan asem… Konon, Soeharto adalah penikmat “jangan lodeh”. Aku pernah membaca di buku: Soeharto kadang menerima tamu di kamar dengan hidangan “jangan lodeh”. Wah, Soeharto tentu anak desa. Eh, di buku biografi, Soeharto memang diresmikan sebagai anak dari desa. Bocah itu lazim makan dengan jangan lodeh, khas masakan di desa.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Soewarsi memberi keterangan untuk masak “jangan lodeh”. Keterangan penting bagi kaum wanita jika ingin anak-anak bisa menjadi presiden. Lho. Jangan lodeh bisa menentukan orang jadi presiden. Bagi Mbok Jinah, “jangan tuntut” turut membuat anak-anak pintar. Wah, konklusi ini memakai rasionalitas sembarangan.

Terong, katjang glejor (katjang pandjang), so, pete. Tumrap ingkan alusan namung: kobis, kentang, wortel, sledri, kapri tuwin soum.

Bumbu saha pangolahipun:

Brambang 4 idji, bawang 2 sijung, lombok abrit 4 idji, laos 2 iris. Sadaja keradjang ladjeng kakumbah. Sarem, traos, gendis djawi satjekapipun, salam selembar, laos sairis, kegetjek, santen kentel 1 widjikan…

Aku tak bisa memasak. Dulu, aku belum ada panggilan untuk belajar pada Mbok Jinah. Memasak itu urusan rumit. Sekarang, memasak adalah acara di televisi. Acara sangar, mendapat iklan berlimpah dan ditonton jutaan orang. Memasak sudah menjadi pekerjaan komersial. Lho! Si tukang masak sering dijuluki dengan sebutan bahasa Inggris. Acara memasak laris memungkinkan si tukang masak dapat undangan ke pelbagai tempat dan menjadi bintang iklan. Oh! Apakah mereka bisa memasak “jangan lodeh” dan “jangan tuntut” seenak masakan Mbok Jinah?

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Aku pernah tergoda mengurusi makanan atau kuliner oleh buku garapan wartawan Kompas, berjudul Jejak Pangan. Buku penting dalam hidupku. Aku belum pernah bertemu si penulis buku Jejak Pangan meski dulu pernah mengadakan pameran buku di Balai Soedjatmoko Solo. Aku berharap kelak bisa bertemu, membuat obrolan. Aku tak mungkin berharap bertemu R.A. Soewarsi. Beliau mungkin sudah almarhumah.

Soewarsi sajikan keterangan-keterangan membuat makanan khas desa. Aku jadi ingat nagasari, meniran, klepon, mendut, lemper, krasikan, jadah… Perut bisa lekas lapar jika bersemangat membaca buku. Aku masih ingat saat masih bocah: merasa berbahagia jika ada tetantagga memiliki gawe atau hajatan. Aku bisa mendapat makanan-makanan gratis. Hore! Buku ini aku temukan juga dengan kebahagiaan. Hore! Buku aku beli dengan harga murah saat menjalankan ibadah rutin setiap Minggu pagi: belanja buku di Stadion Manahan, Solo. Begitu.

Iklan