Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Dulu, aku nggumun saat masih remaja dituduh berpikiran mesum. Seingatku, istilah “mesum” lebih terkenal ketimbang “cabul’. Sekarang, aku mulai bertemu lagi dengan “cabul” jika membaca berita-berita kriminal di koran. Sebelum aku lahir, mesum dan cabul sudah lahir dan bertumbuh besar. Apakah mereka bersaudara? Siapa bapak dan ibu mesum dan cabul? Ah, sejarah selalu tak lengkap.

Pada masa 1950-an, mesum dan cabul ada di buku, koran, dan majalah. Di pelbagai tulisan, mesum dan cabul ditujukan ke kaum muda. Walah! Aku temukan di buku lawas, kutipan tak penting: “… penerangan sex jang sehat kepada pemuda adalah untuk mentjegah pemuda-pemuda mendapatkan pengetahuan sex jang dilakukan setjara tjabul dan mesum, jaitu dari kawan-kawannja jang nakal, bahkan jang sudah terdjerumus kedalam djurang pelatjuran dengan suasananja jang merusak batin.” Eh, aku jadi inggat sebutan “djurang pelatjuran”. Mengapa dulu mesti menggunakan “djurang”? Siapa mengusulkan “djurang” bersanding “pelatjuran”? Oh, “djurang”, kasihan dirimu.

Mesum 1

Aku sedang menikmati buku lawas dan kecil berjudul Apa jang Pemuda dan Pemudi Harus Tahu Sebelum Kawin? karangan Sabiran St. Indra, terbitan Astanabuku Abede, Semarang, 1951. Tebal buku 116 halaman. Aku memilih buku ini untuk dikoleksi beralasan sedang mempelajari tema pemuda, dari masa ke masa. Tema pemuda tentu tak cuma milik Ben Anderson atau para psikolog. Buku dengan gambar sampul artistik semakin membuatku berkepentingan membaca dan menggunakan sebagai referensi sepele. Lho!

Sabiran menerangkan: “… buku ini terutama dimaksudkan untuk pemuda dan pemudi jang hampir dewasa, jaitu kira-kira umur 17 tahun ke atas, dengan maksud, supaja mereka dapat memelihara diri baik-baik dan dapat melewatkan waktu krisinja akil-balig dengan selamat.” Apakah dulu aku selamat melewati umur 17 tahun? Aku menduga tak selamat? Eh, menduga atau fakta. Aku tak selamat. Umur 17, aku masih SMA. Dulu, aku suka membolos, pergi ke bioskop-bioskop murahan: menonton film-film panas. Waduh, pikiranku pasti mesum dan cabul. Apakah obat mujarab bagi mesum dan cabul? Pengajian, organisasi, olahraga, buku? Aku bertemu buku-buku sebagai obat mujarab. Cerita asmara mulai memberi imajinasi kelembutan, kesantunan, kenikmatan, kebaikan, kedamaian, kebahagiaan …. ketimbang mesum dan cabul.

Mesum 2

Bagaimana ciri-ciri akil balig? Di buku kecil, aku dapatkan penjelasan: “Perobahan djasmani pada lelaki diwaktu akil balig terlalu njata udjudnja, sehingga dapat diketahui oleh setiap manusia dewasa. Keadaan badannja jang sebagai kanak-kanak lenjap, terganti oleh keadaan jang mewudjudkan kedjantanan. Parasnja mendjadi lebih angker. Diatas bibirnja tumbuh kumis dan tidak djarang pemuda jang tumbuh djuga djenggot dan tjambang…” Aku berarti sesuai penjelasan. Lulus dari SMP, aku sudah berkumis dan berjenggot. Wah, aku tentu menjadi lelaki angker!

Remaja adalah usia dilematis. Si remaja bakal sering mendapat tuduhan-tuduhan dan nasihat-nasihat. Remaja adalah diri bergelimang nasihat akibat sering bersalah atau berdosa. Oh! Apakah dulu aku juga sering bersalah dan berdosa? Hari berganti hari. Aku bertumbuh besar, memiliki risiko-risiko dalam pergaulan. Aku bisa menikmati kebahagiaan bercampur derita. Impian-impian gampang dihajar fakta-fakta mengenaskan. Hidup tak selalu berwarna terang. Dulu, aku mencoba melewati masa remaja bersama lagu-lagu Dewa 19 dan Iwan Fals; berharap romantis tapi tak menemukan kekasih sejati. Uh!

Nasihat penting bagi lelaki bercap pemuda: “Banjak pemuda telah mendjadi rusak badan dan buruk djiwa, melulu oleh karena pergaulan. Banjak pemudi tiba pada keadaan sebaliknja daripada tjita-tjitanja, melulu karena pergaulan jang keliru.” Pergaulan itu membentuk diri. Nasihat lanjutan: “Djikalau didalam pergaulannja nampak kawan jang terlalu suka membitjarakan hal-hal jang menusuk-nusuk nafsu dan menggerakkan birahi harus kawan demikian didjauhkan dari pergaulan, sebab bisa menjeret dirinja tertusuk-tusuk nafsu-birahinja setjara tidak sehat, sebab tidak sewadjarnja.” Masa sulit atau krisis aku lewati dengan pelbagai kesalahan. Setelah berkeinginan waras, aku mulai agak bisa meredakan nafsu-birahi dengan membaca buku-buku Hamka, Kahlil Gibran, Mochtar Lubis, Iwan Simatupang, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono…

Mesum 3

Aku merenung sejenak setelah membaca keterangan-keterangan di halaman 62-65 tentang “penjakit kotor” dan “pelatjuran”. Aku memilih alinea agak penting: “Badan jang masih bersih dan mulus itu, djanganlah dipetarohkan didalam mengedjar bajangan kesenangan palsu itu. Beberapa menit kekeliruan dapat datangkan rasa menjesal seumur hidup. Teristimewa mendatangkan kesangsaraan jang njata pula.” Keterangan ini bisa aku sampaikan jika menjadi juru penerang dalam organisasi pemuda. Peringatan tentang “beberapa menit” pantas untuk direnungkan pemuda-pemudi.

Detik-detik krisis dilalui. Pemuda pun mulai berpikir untuk menikah, membangun keluarga. Di pelbagai surat undangan pernikahan, aku kadang membaca ungkapan puitis: bahtera rumah tangga. Pengundang kadang menuliskan firman Tuhan, petikan puisi, atau pepatah bijak. Setelah berhasil menikah, pasangan pengantin harus menjawab persoalan penting. Apa? Sabiran menulis: “Apabila pernikahan telah selesai, maka timbullah soal memetik bunga.” Oh, menikah itu berkebun. Mengapa memetik bunga? Apakah pengantin harus memiliki kebun? Ah, aku jadi ingat buku puisi Radindranath Tagore berjudul Tukang Kebun, terjemahan Hartojo Andangdjaja.

Keterangan lanjutan: “Apabila pemetikan bunga sudah dapat dilaksanakan dengan selamat… didalam waktu-waktu pertama suami-isteri djangan terlalu ugal-ugalan serta terlalu sering berhubungan badan, karena lebih baik berlaku menurut adjakan badan jang sewadjaranja.” Ingat, jangan ugal-ugalan dalam memetik bunga. Nasihat patut diperhatikan dan direnungkan. Begitu.

Iklan