Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

“Dunia dalam tahun 1900. Bersamaan dengan semakin tjepatnja roda Revolusi Industri Baru dan Imperialisme Baru pada achir abad ke sembilan belas, di benua Afrika dan Asia banjak timbul peperangan sebagai akibat tindakan negara-negara jang berusaha memperluas tanah djadjahannja. Sampai saat itu hanja negara-negara Eropah-lah jang saling berlomba untuk menguasai dunia, tetapi sekarang djuga Amerika Serikat dan Djepang termasuk negara-negara jang mentjari pengaruh.” Kutipan berasal dari buku berjudul Dunia dalam Abad ke 20 garapan Louis L. Snyder, terbitan Djaja Sakti. Penerjemahan ke bahasa Indonesia dilakukan oleh Suwarno Hadiatmodjo. Buku berpenampilan santun. Tebal 211 halaman. Buku dengan kertas buram tapi pembaca tak bakal memandang dengan buram. Eh, buram itu ada dalam perang-perang selama abad XX.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Aku tak bisa melupakan puisi andalan dari pujangga pujaan. Puisi berjudul Abad 20 gubahan Subagio Sastrowardoyo. Puisi dua bait, memberi ajakan mengingat abad silam. Aku membaca sekarang berarti untuk mengenang.

Sebab aku bukan anak adam

yang membayang ke langit luka.

Aku ini keturunan jiwa yang terpecah

yang terhampar pada bimbang

antara percaya dan harakiri

Abad XX terasa menakutkan, sedih, tragis, dan buram. Petikan puisi jadi bandingan untuk membaca buku garapan Louis. Apakah abad XX? Louis menerangkan: “Abad ke 20 ini sering disebut dengan berbagai-bagai nama, misalnja Abad Teknik, Abad Nasionalisme, Abad Demokrasi kontra pemerintahan ditaktor, Abad Perang Dunia, Abad Kaum Proletar, Abad Freud. Tiap-tiap nama ini menundjukkan salah satu keistimewaan jang terdjadi dalam sedjarah.” Abad bernama dan bercerita. Buku ini terbit masa 1950-an. Uraian Louis tentu cuma separuh, tak bakal bisa menceritakan masa 1960-an sampai 1990-an. Buku tak sempurna tapi berlagak menerangkan abad XX. Ah, tak apa. Louis adalah orang pintar. Aku patut membaca dan mengerti sejarah menggunakan buku separuh. Louis mengakui: “Tudjuan dari tulisan ini adalah untuk memasak kedjadian-kedjadian jang terpenting dalam sedjarah setengah abad jang baru lampau, agar supaja diketemukan dasar-dasar untuk dapat mengerti dasar tersebut.” Oh!

Perang dan perang. Novel, buku sejarah, dan film sering menampilkan perang-perang selama abad XX: Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Indonesia juga ada dalam perang. Perang itu kematian, kehancuran, kesedihan, kerusakan… Keterangan Louis: “Kerugian jang berupa djiwa dan material dari Perang Dunia I, jang berlangsung selama 1565 hari itu sangat menta’djubkan. Perang mencipta neraka. Surga-surga kecil dihilangkan oleh peluru, bom, darah, teriakan…

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Perang Dunia II semakin menjelaskan ambisi manusia. Perang masih berlanjut, berkonsekuensi keserakahan dan kemauan negara-negara jajahan untuk merdeka. Indonesia merdeka, 1945. Perang Dunia II jadi memori buruk, latar dari pembentukan bangsa-negara bercap modern atau dipaksakan menganut demokrasi. Wah, aku harus menulis Amerika Serikat untuk mengenang Perang Dunia II. Aku mengutip informasi dalam buku: “Amerika Serikat muntjul dari Perang Dunia I sebagai negara jang terbesar didunia dilapangan politik dan ekonomi. Dari tahun 1790 sampai 1940 penduduk Amerika Serikat jang merupakan tjampuran dari berbagai-bagai bangsa, bertambah lebih dari tiga puluh kali, dari 3.929.214 mendjadi 131.669.275.” Amerika Serikat berubah, berkuasa di dunia. Sejarah milik Amerika Serikat. Waduh!

Perang Dunia II menghasilkan Amerika Serikat sebagai “negara terkaja dan terkuat di dunia.” Bagaimana Indonesia? Konon, Amerika Serikat pernah kasmaran pada Indonesia, masa 1940-an sampai 1960-an. Indonesia negara besar, tapi masih harus mentas dari kemiskinan. Amerika Serikat memberi dan mendikte. Indonesia salah tingkah.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Abad XX juga mengisahkan manusia, tak cuma negara. Bagaimana manusia? Puisi Subagio Sastrowardoyo representasi jiwa manusia abad XX. Apakah berbeda dengan keterangan Louis? Aku sajikan kutipan agak panjang: “Dalam abad kedua puluh orang melihat kemadjuan materiil jang terbesar, jang pernah dikenal dalam sedjarah manusia. Tetapi keseimbangan jang diperoleh karena kompromi itu telah dihantjurkan oleh dua peperangan besar dan suatu kemunduran besar.” Sejarah itu buram. Aku lahir di abad XX. Sekarang, menjalani hidup di abad XXI. Aku belum mengerti utuh perbedaan dua abad.

Hal penting dalam sejarah ditampilkan melalui pendidikan. Louis menganggap pendidikan turut menentukan arah dan kualitas sejarah abad XX. Di pelbagai negara, kebijakan pendidikan menentukan kebesaran, kemuliaan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Indonesia pada masa 1940-an dan 1950-an sedang menata diri dalam pendidikan. Di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat pendidikan terus bergerak: kemajuan. Louis menerangkan: “Pertentangan djiwa antara negara-negara demokrasi dan negara-negara diktator memberikan refleksinja dilapangan pendidikan. dalam abad ke dua puluh kita melihat berkurangnja buta huruf diseluruh dunia, tetapi djuga timbulnja berbagai-bagai aliran kearah mana anak-anak kita harus dididik.” Oh, aku mulai mengerti misi Amerika Serikat memberi bantuan ke Indonesia dalam pemodernan pendidikan. Ah, ada keinginan “membentuk” Indonesia. Bantuan itu bernama beasiswa, penelitian, kurikulum, tenaga pengajar… Abad XX berakhir, aku mengenang dengan buku. Begitu.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar.

Iklan