Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Presiden menginginkan Indonesia bisa swasembada pangan. Keinginan mesti terwujud. Perintah presiden mengandung konsekuensi: jika menteri gagal melaksankan mendapat hukuman “dipecat”. Ha! Presiden berwajah kalem bisa galak. Dulu, Soeharto pernah pamer mitos swasembada pangan, 1984. Mitos itu mungkin mengejek masa kolonial dan masa Orde Baru, tak pernah berhasil swasembada pangan. Aku menduga saja, belum tentu benar. Si penduga menggunakan jurus mengawur.

Aku jadi tergoda mengerti situasi pertanian pada masa 1950-an. Indonesia itu negeri pertanian tapi sedikit memiliki referensi buku bertema pertanian: dari sejarah sampai sastra. Ah, aku menuduh sembarangan. Sekian tahun aku berminat mempelajari pertanian. Eh, pencarian buku sulit. Penerbitan buku pertanian memang belum diminati. Aku mendapat koleksi buku terbitan YOI dan UGM Pres. Nah, aku mendapat lagi tambahan bacaan. Buku lawas berjudul Sosial-Agronomi Daerah Patjet (Bogor) susunan Zahar, diterbitkan oleh J.B. Wolters, Jakarta-Groningen, 1953. Buku dengan kertas apik, sampul sederhana tanpa gambar, tebal 155 halaman.

IMG_0021

Aku penasaran dengan informasi di halaman belakang. Ada judul “Perpustakaan Pertanian untuk Indonesia”. Oh, J.B. Wolters memiliki perhatian menerbitkan seri buku pertanian, tak cuma buku pelajaran. Keren! Daftar buku: Para: Berkebun dan Pembikinan Karet di Indonesia oleh P. Bakker, Tjara Menanam dan Mempergunakan Sajuran Indonesia dan Rempah-Rempah oleh Soeparma Satideredja, Penuntun Bertjotjok Tanam dan Membuat Tembakau Sigaret di Indonesia oleh Ir. G.L. Wanrooy, dan Bertjotjok Tanam Padi di Indonesia oleh Zahar. Apakah aku bakal bisa menemukan semua buku terbitan J.B. Wolters? Ah, aku mesti bisa mendapatkan dan menambahi koleksi bacaan di Bilik Literasi.

Zahar menulis: “… buku ini ditudjukanlah terutama kepada mereka jang bekerdja pada beberapa djawatan kemakmuran. Tidak salah raba pula kiranja, apabila karangan ini dapat dipergunakan sebagai pedoman pada pendidikan pertanian dll.nja, dari perguruan mana biasanja ditjalonkan ahli-ahli penjuluh itu.” Buku ini tak ditujukan padaku. Aku ingin membaca. Apakah aku berdosa jika membaca? Apakah Zahar memberikan izin agar aku mendapat secuil hikmah? Ah, aku tetap membaca meski tak diizinkan atau mendapat ancaman ditangkap polisi. Lho!

IMG_0028

Laporan Zahar tentang Patjet: “Beberapa tahun berselang–sebelum 1925–daerah Patjet itu hanja dapat didatangi dari sebelah selatan, djadi dari djurusan Tjiandjur, sedangkan dengan bahagian utara tak ada perhubungan. Karena ini terpaksalah hasil pertanian dan perkebunan diangkut ke Tjiandjur setjara dipikul atau dengan pedati, dan seterusnja ke Djakarta oleh kereta api. Akibatnja pengangkutan setjara ini menjebabkan bahan-bahan sajuran jang ta’ tahan lama, akan tetapi berharga tinggi menderita kerusakan.” Aduh, situasi masih tak menguntungkan para petani. Nasib berubah saat dibuka perhubungan Bogor-Jakarta melalui Puncak. Pengangkutan mulai menggunakan bis atau vrahoto. Perubahan masih sulit mengubah persepsi bahwa Patjet “terpencil”.

Bagaimana gambaran penduduk di Patjet? Aku belum pernah ke Patjet. Buku ini bisa memberi panduan saat kelak dolan ke Patjet. Kapan? Aku tak tahu. Zahar melaporkan: “Penduduk daerah Patjet itu memeluk agama Islam. Dibandingkan dengan lain-lain daerah dibilangan Periangan, seperti Tjirebon dan Bandung, penduduknja kabupaten Tjiandjur, djadi termasuk pula rakjat Patjet, boleh dikatakan mementingkan keagamaan dalam hidup sehari-hari. Karena ini mudahlah kita mengerti pengaruhnja agama itu. Pengaruh itu meliputi pula tjara mereka mentjahari nafkah serta tjoraknja pengaruh itu tampak pula pada susunan kemasjarakatan desa.” Orang beragama mesti rajin bekerja. Di Patjet, penduduk bekerja dalam pertanian dan perkebunan. Aku tentu selalu ingat omongan ulama: bekerja itu beribadah. Sip! Bertani dan berkebun bisa meningkatkan iman dan takwa.

IMG_0036

Informasi-informasi Zahar membuatku kangen Indonesia saat masih memiliki hamparan sawah, kebun luas membentang, perbukitan dengan pepohonan. Indonesia adalah negeri berwarna hijau, berudara bersih, berhawa sejuk, berpemandangan indah, bertanah subur. Di sawah, para petani membajak dan menanam padi dengan gembira. Di kebun, pelbagai tanaman memberi gizi dan menghasilkan nafkah hidup. Oh, Indonesia, negeri makmur. Walah! Aku mulai tergoda mengingat Indonesia dengan lagu-lagu dan puisi-puisi lawas. Ah, kangen ini membuatku bersedih…

Apakah dulu Patjet bisa makmur dari pertanian dan perkebunan? Apakah petani mendapat restu Tuhan dengan kemudahan mengolah tanah dan keberlimpahan air? Zahar melaporkan: “Daerah Patjet amat kaja pada sungai-sungai dengan air hidup oleh sebab hutannja pada lereng-lereng gunung terpelihara baik. Karena itu dapatlah petani selalu mengairi sawahnja pada musim apapun djuga.” Di Patjet, tak ada masalah sulit air. Petani tentu berbahagia, menunaikan pekerjaan dengan kelimpahan air. Aku jadi ingat air. Teman-teman sedang mengerjakan esai air. Apakah mereka bakal mengisahkan air berlatar pertanian? Aku tunggu saja kehadiran esai mereka. Buku ini bisa dijadikan bacaan, mengerti air dan pertanian. Berlanjut, mengerti Patjet adalah bukti kegairahan bertani dan berkebun di Indonesia masa lalu. Begitu.

IMG_0045

Iklan